Nama : Dita Sopia Sari
Nim : 1112032100005
Kelas : PA (A)
Semester : 5
Tanggal : 21 November 2014
Topik : RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU
Relasi
gender masyarakat Bali
dipengaruhi pula oleh agama, yaitu Hindu. Terlihat seperti di beberapa contoh permasalahan
berikut, Ranah Keluarga, ini tidak hanya sebatas dalam keluarga inti
karena di Bali terdapat kelompok keluarga yang disebut dadia. Konsep dadia tidak dapat dipisahkan
dari keluarga inti. Dalam ranah keluarga, kekerabatan patrilineal yang memunculkan
patriarki tampak dalampernikahan, suksesi dan, ahli waris. Dalam pernikahan
pihak perempuan lebih banyak dikenai
berbagai macam peraturan dan
konsekuensi. Sementara itu, suksesi dan ahli waris diturunkan dari ayah ke anak
laki-laki. Dalam pernikahan, sesuai
ketentuan hukum adat tahun 1910, pernikahan seoranglaki-laki dengan perempuan
yang berkasta lebih rendah merupakan sebuah pelanggaran. Pernikahan Dalam
Dadia dan Perebutan Istri, sebagian besar pernikahan yang diinginkan adalah
pernikahan antarkemenakan dalam garis laki-laki (ayah) yaitu pernikahan dengan
anak perempuan dari saudara laki-laki ayah. Poligami, Seorang laki-laki
boleh menikahi lebih dari satu perempuan
tanpa batasan.
Menurut
saya, dari beberapa bacaan yang saya temukan,
teks-teks kitab suci agama Hindu sangat menghormati perempuan dan laki-laki.
Tak ada perbedaan yang berarti di antara kedua dalam mencapai kemuliaan.
Tafsirannya bersifat patriarki. Pembahasan tentang kedudukan perempuan dalam
agama Hindu sungguh sangat menarik, karena perempuan, istri atau wanita
merupakan bagian yang terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Kita sulit
membayangkan bila dalam masyarakat tidak terdapat seorang perempuan.
“Yatra naryastu p jyante,
Ramante tarra
dewatah, yatraitastu na p jyante,
sarvastatra phalah
kriyah” (Manawa Dharmasastra III.58)
Artinya: Dimana wanita dihormati
disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak
dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia
“Cocanti
jamayo yatra Winacyatyacu tatkulam, Na cocanti tu yatraita Wardhate tadddhi
sarwada”.
Artinya: Dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi dimana wanita
tidak menderita keluarga itu akan selalu bahagia.
Pada masa ini, kesetaraan gender perempuan masih terasa. Anak perempuan (duhita) dan
gadis (kanya) dipuji karena cantik,
wajah berseri dandanan menarik senyum yang manis, pinggul yang sintal dan paha
besar. Anak perempuan diawasi dan
dijaga ketat, karena pangantin perempuan dituntut harus perawan. Nasehat
praktis yang diberikan kepada pengantin perempuan dalam Rg-Weda yaitu Jaya,
Jani, dan Patni (Jaya: ikut merasakan perasaan suami, Jani:
menjadi Ibu dari anak-anak, Patni: Partner dalam melakukan berbagai
ritual atau Yajna). Mendampingi
suami dalam melakukan Ritual keagamaan. Menyanyikan puji-pujian dalam ritual keagamaan
untuk mengundang dan melayani Dewa-dewa.
Pada periode selanjutnya Perempuan
dalam Hindu mengalami peranan lain. Dalam sejarah perkembangan agama Hindu, nampak dalam
beberapa dekade wanita kurang mendapatkan penghargaan yang selayaknya, hal ini
disebabkan di antaranya karena pemahaman masyarakat yang kurang baik terhadap
kedudukan seorang perempuan. Dalam sejarah kehidupan masyarakat Bali, kita
mengenal berbagai bentuk perkawinan yang menurut sistem perkawinan Hindu
(sesuai dengan Manavadharmaśāstra) disebut perkawinan Paiśaca, Rakṣasa atau
Asura Vivāham, yaitu perkawinan yang sangat dicela dan tidak dibenarkan adalam
agama Hindu, karena dalam perkawinan tersebut terjadi pelecehan terhadap
seorang wanita. Perempuan tak lain dianggap sebagai Makhluk nomor dua, hampir di
seluruh masyarakat India menginginkan
anak laki-laki dan menyesalkan kelahiran anak perempuan. Sehingga karena hasrat
yang besar ingin memiliki keturunan laki-laki para lelaki menikah 2, 3 sampai 4
kali karena ada pemahaman bahwa tidak akan masuk surga tanpa anak laki-laki.
Para gadis-gadis dinikahkan di usia muda.
Janda-janda harus ikut membakar diri
dengan suaminya yang meninggal dunia bila tidak mereka akan dihina dan
dikucilkan karena dianggap sebagai perempuan pembawa kejahatan dan kemurkaan
para dewa. Wanita yang menjanda memakai baju dan
Sari putih tidak boleh memakai baju yang berwarna dan tidak memakai perhiasan
apapun.
Dalam relasi kuasa Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi, dalam mitologi Hindu dikenal adanya
Dewa-Dewi, yang mana Dewa-Dewi tersebut merupakan personifikasi dari alam atau
sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan Tuhan. Kepercayaan tentang
dewa-dewi dalam agama Hindu sudah muncul sejak zaman Weda, yaitu pada masa
agama Hindu baru berkembang. Dewa-dewi banyak disebut-sebut dalam Weda sebagai
makhluk di bawah derajat Tuhan. Pada zaman Weda, dewa-dewi banyak dipuja
sebagai pelindung diri manusia. Para Dewa dan Dewi tinggal menurut
tempatnya masing-masing, seperti misalnya: Dewa Siwa di gunung Kailasha, Dewa
Wisnu di Waikuntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan sebagainya. Namun, atas
sifat-sifat gaib yang dimilikinya, para dewa dan dewi dapat muncul dengan cepat
kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keinginannya. Setiap Dewa memiliki sakti yaitu
dewi-dewi yang cantik.
Untuk
melihat tokoh-tokoh feminis ideal dalam agama Hindu, maka dapat dirunut pada
pengelompokkan atas profesi seseorang, dan di antara pengelompokkan atau
stratifikasi masyarakat berdasarkan profesinya,
maka para Brahmaṇa atau panditalah yang menempati posisi paling atas, termasuk
di dalamnya adalah para maharṣi, sanyāsin, sadhu atau orang-orang suci yang
tersebut dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya. Selain tokoh-tokoh
Brahmavadini, di dalam kitab-kitab Upaniṣad terdapat tokoh-tokoh yang dikenal
sebagai wanita ideal dan ahli filsafat, yaitu: Maitreyi, Katyayani, yang
merupakan dua istri dari Yajnvalkya, seorang maharsi yang sering dan amat
dominan disebutkan di dalam kitab-kitab Upaniṣad. Tokoh wanita lainnya adalah
Gargi, yang merupakan putra seorang tokohatau pahlawan yang berasal dari kota
Banaras.
Nama : ARIS DHIYA’UL FAUZAIN
Nim : 1112032100007
Kelas : PA (A)
Semester : 5
Tanggal : 21 November 2014
Topik : RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU
A.
Kesetaraan Gender dalam Tradisi dan Teks-teks Hindu
Yatna naryastu puiyante ramante tatra dewatah,
Yatraitastu na pujyante sarwastalah kriyah.
Artinya:
“Dimana wanita dihormati, di sanalah para
dewa-dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada
upacara suci apapun yang akan berpahala.” (Manawa Dharmasastra III. 56).
Dalam kehidupan berumah tangga
menurut Manawa Dharmasastra:
Upadyayandacacarya acaryanam catam pita, sahasram
tu pitrinmatta gaurawenatiricyate.
Artinya:
“Seorang Acarya adalah sepuluh kali lebih
terhormat dari seorang Upadhyaya, seorang ayah adalah seratus kali lebih
terhormat dari seorang guru, tetapi seorang ibu adalah seratus kali lebih
terhormat daripada ayah.” (Manawa Dharmasastra II. 145).
Apatyam dharmakaryani
Cucrusa ratiruttama
Daradhinastatha swargah
Pitri rnanatmanaccaha
Artinya:
“Keturunan terselenggaranya upacara-upacara
keagamaan, pelayanan yang setia, hubungan senggama yang memberi nikmat
tertinggi dan mencapai pahala di surga bagi nenek moyang dan seseorang,
tergantung kepada istri sendiri.” (Manawa Dharmasastra IX sloka 28).
B.
Ketidaksetaraan Gender dalam Tradisi dan
Teks-teks Hindu
“Yatra naryastu pujyante
Ramante tatra dewatah
Yatraitastu na pujyante
Sarwastalah kriyah”
Artinya:
Dimana wanita di hormati,
disana ada kebahagiaan dan kesejahteraan, dan dimana wanita tidak di hormati
tidak ada pekerjaan yang menghasilkan. [Manawa dharma sastra.III. 55.]
“Cocanti jamayo yatra
Winacyatyacu tatkulam,
Na cocanti tu yatraita
Wardhate tadddhi sarwada”.
Artinya:
Dimana warga wanitanya hidup
dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi dimana wanita tidak
menderita keluarga itu akan selalu bahagia.
“Na kaccitdyositah bhaktah
Parahya parisaksitum
Etairupayayogaistu cakyastah
Pariraksitam”
Artinya:
Tak seorang laki-laki pun dapat
menjaga wanita dengan kekerasan, tetapi ia dapat dijaga dengan cara–cara
sebagai berikut.;[Manawa dharma sastra.IX.10]
“Araksita grhe ruddhah
Purusairaptakaribhih
Atmanam atmanayastu
Rakseyustah syraksitah”
Artinya:
Wanita yang tetap tinggal
dirumah, dipercayakan dibawah kepercayaan dan pembantupembantu yang setia
tidaklah terjaga baik; tetapi mereka yang atas kemauan mereka menjaga diri
mereka sendiri adalah terjaga baik. [Manawa dharma sastra.IX.12]
“Panam durjana samsargah
Patya ca wirako’tanam,
Swapno,nya geha wasacca
Narisamdursanani sat”.
Artinya:
Meminum minuman keras, bergaul
dengan orang-orang jahat, berpisah dari suami tidur pada jam-jam tidak layak,
mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain adalah enam sebab
jatuhnya seorang wanita yang menyebabkan kehancuran. [ Manawa Dharma sastra
IX.13.]
“Naita Rupam pariksante
Nasam wayasi samsthitih
Surupam wa wirupam
Wa pumanityewa bhuhjate”.
Artinya:
Wanita tidaklah tergantung pada
rupa, demikian pula terhadap pada unsur tertentu; tetapi berfikir seadanya
bahwa ia adalah laki-laki,ia tidak menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang
cakap maupun yang buruk.[Manawa dharma sastra.IX.14.]
“Suksmebhyopi prasanggebhyah
Striyo raksya wicesatah,
Dwayorhi kulayoh cokam
Awaheyure raksitah”.
Artinya:
Wanita, teristimewa harus
dilindungi dari kecenderungan untuk berbuat jahat, bagaimanapun sedih
tampaknya, jika mereka tidak dijaga, akan membawa penderitaan dan kehancuran
kepada kedua belah pihak.[Manawa dharma sastra. IX. 5]
C.
Feminis Hindu: Perjuangan Melawan
Ketidaksetaraan
Oka Rusmini (Tokoh Feminis Hindu Bali)
Oka Rusmini merupakan salah
satu sosok sastrawan yang sangat diperhitungkan hingga saat ini. Sosok dan
karya-karyanya fenomenal dan seringkali kontroversial karena mengangkat
sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan
perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana. Oka juga dengan
lugas mendobrak tabu, mendedahkan persoalan seks dan erotika secara gamblang.
Semuanya itu dengan jelas bisa dinikmati pada novel Tarian Bumi (2000) yang
telah dicetak ulang dan terbit berbahasa Jerman dengan judul Erdentanz (2007).
Novel tersebut juga banyak diilhami kesenian Joged Bumbung, tari pergaulan
penuh gerakan erotis yang sangat populer di Bali.
Karya-karya Oka yang begitu
keras mendobrak tabu tradisi dan dengan gamblang membicarakan tubuh serta
erotika tentu memunculkan riak-riak pertentangan dari keluarga, sejumlah kawan,
atau masyarakat yang membaca karyanya. “Mungkin mereka merasa terganggu. Tapi
saya biarkan saja. Toh pada akhirnya ketika mereka membaca karya saya dengan
baik, mereka akan mengakui kebenarannya dalam hati,” ujar perempuan yang dalam
kesehariannya selalu tampil ceria ini.
Oka dibesarkan dengan kultur
Bali yang kuat, apalagi tumbuh dalam lingkungan kehidupan griya yang dituntut
berperilaku lebih tertib, sopan dan beradab; harus pandai membuat perlengkapan
upacara Agama Hindu dan sebagainya. Kakek dari pihak ibunya adalah seorang
lurah pada jaman Belanda yang mahir membaca kitab-kitab kuno dan memiliki ilmu gaib yang sering dipamerkan di
depannya. Kakek dari pihak ayahnya adalah pembuat pratima (arca-arca sakral).
Nenek dari pihak ayahnya sangat hafal dengan sejarah griyanya yang juga suka
bercerita tentang seluk beluk ilmu hitam. Bagi Oka semuanya itu merupakan
pengalaman eksotis dan erotis. “Saya hidup dan dibesarkan di sebuah keluarga
Bali yang benar-benar paham arti menjadi orang Bali. Ini mungkin yang
memperkuat karya-karya saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967
ini.
Oka Rusmini memutuskan
menanggalkan gelar Ida Ayu yang disandangnya sejak terlahir sebagai keturunan Brahmana.
Oka merasa tidak pantas menyandang gelar terhormat tersebut. Hal itu juga
dilakukannya sebagai bentuk pemberontakan dan protesnya terhadap ketidakadilan
yang menimpa kaum perempuan di lingkungan griya, termasuk dirinya sendiri.
Pemberontakannya semakin nyata ketika Oka memutuskan menerima lamaran penyair
Arif Bagus Prasetyo yang berbeda agama dengan dirinya. Tentu saja pernikahan
mereka ditentang keras oleh ayahnya dan keluarga besar griya.
Sebagai sastrawan, Oka Rusmini
pernah menerima berbagai macam penghargaan sastra, antara lain “Penghargaan
Penulisan Karya Sastra 2003” dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional
Indonesia. Dia juga sering diundang dalam berbagai forum sastra nasional dan
internasional, di antaranya Festival Sastra Winternachten di Den Haag dan
Amsterdam, Belanda, sekaligus tampil menjadi penulis tamu di Universitas Hamburg,
Jerman, pada tahun 2003.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar