Kamis, 04 Desember 2014

RESPONDING PAPER TOPIK RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU

Nama              : Dita Sopia Sari
Nim                 : 1112032100005
Kelas               : PA (A)
Semester         : 5
Tanggal          : 21 November 2014
Topik              : RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU

Relasi gender masyarakat Bali dipengaruhi pula oleh agama, yaitu Hindu. Terlihat seperti di beberapa contoh permasalahan berikut, Ranah Keluarga, ini tidak hanya sebatas dalam keluarga inti karena di Bali terdapat kelompok keluarga yang disebut  dadia. Konsep dadia tidak dapat dipisahkan dari keluarga inti. Dalam ranah keluarga, kekerabatan patrilineal yang memunculkan patriarki tampak dalampernikahan, suksesi dan, ahli waris. Dalam pernikahan pihak perempuan lebih  banyak dikenai berbagai  macam peraturan dan konsekuensi. Sementara itu, suksesi dan ahli waris diturunkan dari ayah ke anak laki-laki. Dalam pernikahan, sesuai ketentuan hukum adat tahun 1910, pernikahan seoranglaki-laki dengan perempuan yang berkasta lebih rendah merupakan sebuah pelanggaran. Pernikahan Dalam Dadia dan Perebutan Istri, sebagian besar pernikahan yang diinginkan adalah pernikahan antarkemenakan dalam garis laki-laki (ayah) yaitu pernikahan dengan anak perempuan dari saudara laki-laki ayah. Poligami, Seorang laki-laki boleh menikahi lebih dari satu perempuan  tanpa batasan.
Menurut saya, dari beberapa bacaan yang saya temukan, teks-teks kitab suci agama Hindu sangat menghormati perempuan dan laki-laki. Tak ada perbedaan yang berarti di antara kedua dalam mencapai kemuliaan. Tafsirannya bersifat patriarki. Pembahasan tentang kedudukan perempuan dalam agama Hindu sungguh sangat menarik, karena perempuan, istri atau wanita merupakan bagian yang terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Kita sulit membayangkan bila dalam masyarakat tidak terdapat seorang perempuan. 


Yatra naryastu p jyante, Ramante tarra dewatah, yatraitastu na p jyante, sarvastatra phalah kriyah (Manawa Dharmasastra III.58)
Artinya: Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia
“Cocanti jamayo yatra Winacyatyacu tatkulam, Na cocanti tu yatraita Wardhate tadddhi sarwada”.
Artinya: Dimana warga wanitanya hidup  dalam kesedihan, keluarga itu    akan cepat hancur, tetapi dimana wanita tidak menderita keluarga itu akan selalu bahagia.
Pada masa ini, kesetaraan gender perempuan masih terasa. Anak perempuan (duhita) dan gadis (kanya) dipuji karena cantik, wajah berseri dandanan menarik senyum yang manis, pinggul yang sintal dan paha besar. Anak perempuan diawasi dan dijaga ketat, karena pangantin perempuan dituntut harus perawan. Nasehat praktis yang diberikan kepada pengantin perempuan dalam Rg-Weda yaitu Jaya, Jani, dan Patni (Jaya: ikut merasakan perasaan suami, Jani: menjadi Ibu dari anak-anak, Patni: Partner dalam melakukan berbagai ritual atau Yajna). Mendampingi suami dalam melakukan Ritual keagamaan. Menyanyikan puji-pujian dalam ritual keagamaan untuk mengundang dan melayani Dewa-dewa.
Pada periode selanjutnya Perempuan dalam Hindu mengalami peranan lain. Dalam sejarah perkembangan agama Hindu, nampak dalam beberapa dekade wanita kurang mendapatkan penghargaan yang selayaknya, hal ini disebabkan di antaranya karena pemahaman masyarakat yang kurang baik terhadap kedudukan seorang perempuan. Dalam sejarah kehidupan masyarakat Bali, kita mengenal berbagai bentuk perkawinan yang menurut sistem perkawinan Hindu (sesuai dengan Manavadharmaśāstra) disebut perkawinan Paiśaca, Rakṣasa atau Asura Vivāham, yaitu perkawinan yang sangat dicela dan tidak dibenarkan adalam agama Hindu, karena dalam perkawinan tersebut terjadi pelecehan terhadap seorang wanita. Perempuan tak lain dianggap sebagai Makhluk nomor dua, hampir di seluruh  masyarakat India menginginkan anak laki-laki dan menyesalkan kelahiran anak perempuan. Sehingga karena hasrat yang besar ingin memiliki keturunan laki-laki para lelaki menikah 2, 3 sampai 4 kali karena ada pemahaman bahwa tidak akan masuk surga tanpa anak laki-laki. Para gadis-gadis dinikahkan di usia muda. Janda-janda harus ikut membakar diri dengan suaminya yang meninggal dunia bila tidak mereka akan dihina dan dikucilkan karena dianggap sebagai perempuan pembawa kejahatan dan kemurkaan para dewa. Wanita yang menjanda memakai baju dan Sari putih tidak boleh memakai baju yang berwarna dan tidak memakai perhiasan apapun.
Dalam relasi kuasa Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi, dalam mitologi Hindu dikenal adanya Dewa-Dewi, yang mana Dewa-Dewi tersebut merupakan personifikasi dari alam atau sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan Tuhan. Kepercayaan tentang dewa-dewi dalam agama Hindu sudah muncul sejak zaman Weda, yaitu pada masa agama Hindu baru berkembang. Dewa-dewi banyak disebut-sebut dalam Weda sebagai makhluk di bawah derajat Tuhan. Pada zaman Weda, dewa-dewi banyak dipuja sebagai pelindung diri manusia. Para Dewa dan Dewi tinggal menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya: Dewa Siwa di gunung Kailasha, Dewa Wisnu di Waikuntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan sebagainya. Namun, atas sifat-sifat gaib yang dimilikinya, para dewa dan dewi dapat muncul dengan cepat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keinginannya. Setiap Dewa memiliki sakti yaitu dewi-dewi yang cantik.
Untuk melihat tokoh-tokoh feminis ideal dalam agama Hindu, maka dapat dirunut pada pengelompokkan atas profesi seseorang, dan di antara pengelompokkan atau stratifikasi masyarakat berdasarkan profesinya, maka para Brahmaṇa atau panditalah yang menempati posisi paling atas, termasuk di dalamnya adalah para maharṣi, sanyāsin, sadhu atau orang-orang suci yang tersebut dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya. Selain tokoh-tokoh Brahmavadini, di dalam kitab-kitab Upaniṣad terdapat tokoh-tokoh yang dikenal sebagai wanita ideal dan ahli filsafat, yaitu: Maitreyi, Katyayani, yang merupakan dua istri dari Yajnvalkya, seorang maharsi yang sering dan amat dominan disebutkan di dalam kitab-kitab Upaniṣad. Tokoh wanita lainnya adalah Gargi, yang merupakan putra seorang tokohatau pahlawan yang berasal dari kota Banaras.





Nama              : ARIS DHIYA’UL FAUZAIN
Nim                 : 1112032100007
Kelas               : PA (A)
Semester         : 5
Tanggal          : 21 November 2014
Topik              : RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU


A.    Kesetaraan Gender  dalam Tradisi dan Teks-teks Hindu

Yatna naryastu puiyante ramante tatra dewatah, Yatraitastu na pujyante sarwastalah kriyah.

Artinya:
“Dimana wanita dihormati, di sanalah para dewa-dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.” (Manawa Dharmasastra III. 56).

Dalam kehidupan berumah tangga menurut Manawa Dharmasastra:

Upadyayandacacarya acaryanam catam pita, sahasram tu pitrinmatta gaurawenatiricyate.

Artinya:
“Seorang Acarya adalah sepuluh kali lebih terhormat dari seorang Upadhyaya, seorang ayah adalah seratus kali lebih terhormat dari seorang guru, tetapi seorang ibu adalah seratus kali lebih terhormat daripada ayah.” (Manawa Dharmasastra II. 145).

Apatyam dharmakaryani
Cucrusa ratiruttama
Daradhinastatha swargah
Pitri rnanatmanaccaha

Artinya:
“Keturunan terselenggaranya upacara-upacara keagamaan, pelayanan yang setia, hubungan senggama yang memberi nikmat tertinggi dan mencapai pahala di surga bagi nenek moyang dan seseorang, tergantung kepada istri sendiri.” (Manawa Dharmasastra IX sloka 28).

B.     Ketidaksetaraan Gender dalam Tradisi dan Teks-teks Hindu 

“Yatra naryastu pujyante
Ramante tatra dewatah
Yatraitastu na pujyante
Sarwastalah kriyah”

Artinya:
Dimana wanita di hormati, disana ada kebahagiaan dan kesejahteraan, dan dimana wanita tidak di hormati tidak ada pekerjaan yang menghasilkan. [Manawa dharma sastra.III. 55.]

“Cocanti jamayo yatra
Winacyatyacu tatkulam,
Na cocanti tu yatraita
Wardhate tadddhi sarwada”.

Artinya:
Dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi dimana wanita tidak menderita keluarga itu akan selalu bahagia.

“Na kaccitdyositah bhaktah
Parahya parisaksitum
Etairupayayogaistu cakyastah
Pariraksitam”

Artinya:
Tak seorang laki-laki pun dapat menjaga wanita dengan kekerasan, tetapi ia dapat dijaga dengan cara–cara sebagai berikut.;[Manawa dharma sastra.IX.10]

“Araksita grhe ruddhah
Purusairaptakaribhih
Atmanam atmanayastu
Rakseyustah syraksitah”

Artinya:
Wanita yang tetap tinggal dirumah, dipercayakan dibawah kepercayaan dan pembantupembantu yang setia tidaklah terjaga baik; tetapi mereka yang atas kemauan mereka menjaga diri mereka sendiri adalah terjaga baik. [Manawa dharma sastra.IX.12]

“Panam durjana samsargah
Patya ca wirako’tanam,
Swapno,nya geha wasacca
Narisamdursanani sat”.

Artinya:
Meminum minuman keras, bergaul dengan orang-orang jahat, berpisah dari suami tidur pada jam-jam tidak layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain adalah enam sebab jatuhnya seorang wanita yang menyebabkan kehancuran. [ Manawa Dharma sastra IX.13.]

“Naita Rupam pariksante
Nasam wayasi samsthitih
Surupam wa wirupam
Wa pumanityewa bhuhjate”.

Artinya:
Wanita tidaklah tergantung pada rupa, demikian pula terhadap pada unsur tertentu; tetapi berfikir seadanya bahwa ia adalah laki-laki,ia tidak menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang cakap maupun yang buruk.[Manawa dharma sastra.IX.14.]

“Suksmebhyopi prasanggebhyah
Striyo raksya wicesatah,
Dwayorhi kulayoh cokam
Awaheyure raksitah”.

Artinya:
Wanita, teristimewa harus dilindungi dari kecenderungan untuk berbuat jahat, bagaimanapun sedih tampaknya, jika mereka tidak dijaga, akan membawa penderitaan dan kehancuran kepada kedua belah pihak.[Manawa dharma sastra. IX. 5]

C.    Feminis Hindu: Perjuangan Melawan Ketidaksetaraan

Oka Rusmini (Tokoh Feminis Hindu Bali)

Oka Rusmini merupakan salah satu sosok sastrawan yang sangat diperhitungkan hingga saat ini. Sosok dan karya-karyanya fenomenal dan seringkali kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana. Oka juga dengan lugas mendobrak tabu, mendedahkan persoalan seks dan erotika secara gamblang. Semuanya itu dengan jelas bisa dinikmati pada novel Tarian Bumi (2000) yang telah dicetak ulang dan terbit berbahasa Jerman dengan judul Erdentanz (2007). Novel tersebut juga banyak diilhami kesenian Joged Bumbung, tari pergaulan penuh gerakan erotis yang sangat populer di Bali.

Karya-karya Oka yang begitu keras mendobrak tabu tradisi dan dengan gamblang membicarakan tubuh serta erotika tentu memunculkan riak-riak pertentangan dari keluarga, sejumlah kawan, atau masyarakat yang membaca karyanya. “Mungkin mereka merasa terganggu. Tapi saya biarkan saja. Toh pada akhirnya ketika mereka membaca karya saya dengan baik, mereka akan mengakui kebenarannya dalam hati,” ujar perempuan yang dalam kesehariannya selalu tampil ceria ini.

Oka dibesarkan dengan kultur Bali yang kuat, apalagi tumbuh dalam lingkungan kehidupan griya yang dituntut berperilaku lebih tertib, sopan dan beradab; harus pandai membuat perlengkapan upacara Agama Hindu dan sebagainya. Kakek dari pihak ibunya adalah seorang lurah pada jaman Belanda yang mahir membaca kitab-kitab kuno dan  memiliki ilmu gaib yang sering dipamerkan di depannya. Kakek dari pihak ayahnya adalah pembuat pratima (arca-arca sakral). Nenek dari pihak ayahnya sangat hafal dengan sejarah griyanya yang juga suka bercerita tentang seluk beluk ilmu hitam. Bagi Oka semuanya itu merupakan pengalaman eksotis dan erotis. “Saya hidup dan dibesarkan di sebuah keluarga Bali yang benar-benar paham arti menjadi orang Bali. Ini mungkin yang memperkuat karya-karya saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967 ini.

Oka Rusmini memutuskan menanggalkan gelar Ida Ayu yang disandangnya sejak terlahir sebagai keturunan Brahmana. Oka merasa tidak pantas menyandang gelar terhormat tersebut. Hal itu juga dilakukannya sebagai bentuk pemberontakan dan protesnya terhadap ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan di lingkungan griya, termasuk dirinya sendiri. Pemberontakannya semakin nyata ketika Oka memutuskan menerima lamaran penyair Arif Bagus Prasetyo yang berbeda agama dengan dirinya. Tentu saja pernikahan mereka ditentang keras oleh ayahnya dan keluarga besar griya.

Sebagai sastrawan, Oka Rusmini pernah menerima berbagai macam penghargaan sastra, antara lain “Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003” dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Dia juga sering diundang dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional, di antaranya Festival Sastra Winternachten di Den Haag dan Amsterdam, Belanda, sekaligus tampil menjadi penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman, pada tahun 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar