Kamis, 04 Desember 2014

RELASI GENDER DALAM AGAMA KRISTEN (PERIODE PERJANJIAN BARU)

RELASI GENDER DALAM AGAMA KRISTEN
(PERIODE PERJANJIAN BARU)


BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini status dan peran perempuan dalam masyarakat menjadi salah satu tema penting yang sering dibahas. Dalam banyak seminar nasional perbedaan status dan peran itu, yang terbentuk dalam proses sosial serta budaya yang panjang, dikemukakan sebagai masalah gender, masalah dominasi patriarkhat yaitu sistem yang dilahirkan oleh praktik-praktik sosial dan politik di mana kaum laki-laki menguasai serta menindas perempuan. Tidak heran kalau perbedaan status dan peran perempuan dengan laki-laki dikategorikan kepada masalah ketidakadilan gender yang umumnya mengorbankan perempuan. 

Sensitivitas gender menuntut suatu upaya untuk mengungkap masalah gender, menyikapinya, dan ditindaklanjuti oleh banyak pihak termasuk oleh para tokoh agama. Mengapa para tokoh agama? Karena salah satu penyebab ketidak-adilan gender adalah tinjauan teologis dan etis yang sarat dengan budaya yang merendahkan perempuan. Apalagi kitab suci yang menjadi dasar tinjauan teologis dan etis itu sendiri amat diwarnai  budaya patriarkhat.

Dengan demikian, seminar-seminar atau tulisan dengan pokok bahasan “gender dari sudut pandang agama” amatlah penting. Khususnya tulisan dengan “gender dari sudut pandang agama Kristen” sangat berguna. Karena dalam tulisan ini akan diperlihatkan perbedaan gender dan seks dalam Perjanjian Lama secara khusus. Dengan demikian, akan terlihat dengan jelas yang manakah status dan peran laki-laki serta perempuan yang berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi serta mana pula yang tidak pernah berubah karena merupakan kodrat dari Tuhan. Terutama melalui tulisan ini akan terlihat seperti apakah kesetaraan laki-laki dan perempuan atau diskriminasi terhadap perempuan (kalau ada tentunya). Juga dalam tulisan ini akan dibahas proses sosial budaya  yang mempengaruhi kesetaraan dan diskriminasi tersebut.

























BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum kita membahas lebih jauh ke depan, ada baiknya saya paparkan terlebih dahulu beberapa penjelasan berikut ini.

A.    Sejarah Kekristenan

Sejarah Kekristenan tidak bisa dipisahkan dari Sejarah gereja Kristen yang membawa ajaran agama Kristen, mengayomi penganutnya dan menjadi saksi perkembangan pekerjaan yang telah dijalankan sepanjang dua ribu tahun, sejak abad pertama Masehi, mulai dari tanah Israel hingga ke Eropa, Amerika, dan seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sejarah gereja sangat menarik untuk dicermati, dipengaruhi oleh tokoh-tokoh gereja yang tidak terbilang banyaknya, dan juga menimbulkan kejadian-kejadian yang mengubah alur sejarah dunia.

Kekristenan muncul dari wilayah Levant (sekarang Palestina dan Israel) mulai pertengahan abad pertama Masehi. Asalnya Kekristenan dimulai di kota Yerusalem dan mulai menyebar ke wilayah Timur Dekat, termasuk ke Siria, Asyur, Mesopotamia, Fenisia, Asia Minor, Yordania dan Mesir. Sekitar 15 tahun setelahnya Kekristenan mulai memasuki Eropa Selatan dan berkembang di sana. Sementara itu juga terjadi penyebaran di Afrika Utara serta Asia Selatan dan Eropa Timur. Pada abad ke-4 Kekristenan telah dijadikan agama negara oleh Dinasti Arsacid di Armenia pada tahun 301, "Caucasian Iberia" (atau Republik Georgia) pada tahun 319, Kekaisaran Aksumit di Etiopia pada tahun 325, dan Kekaisaran Romawi pada tahun 380 M.

Kekristenan menjadi umum bagi seluruh Eropa pada Abad Pertengahan dan mengembang ke seluruh dunia selama Masa Eksplorasi negara-negara Eropa dari zaman Renaissance sampai menjadi agama terbesar di dunia. Sekarang terdapat lebih dari 2 miliar orang Kristen, yaitu sepertiga jumlah manusia di dunia. Kekristenan terbagi menjadi Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur pada Skisma Timur-Barat atau Skisma Besar pada tahun 1054. Reformasi Protestan memecah Gereja Katolik Roma menjadi berbagai denominasi Kristen.

B.     Sejarah Alkitab
Berpikirlah sejenak mengenai kitab yang luar biasa yang kita sebut "Alkitab". Tiga agama besar - Kekristenan, Yudaisme, dan Islam - menyatakan bahwa Alkitab atau bagian-bagian dari Alkitab adalah kitab suci, dan Kekristenan menyatakan Alkitab sebagai satu-satunya Kitab Sucinya. Orang Kristen percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah untuk setiap zaman, termasuk zaman kita. Itu sebabnya kita mempelajarinya dan berusaha untuk mengertinya dengan lebih baik dalam tiap generasi baru. Untuk memperoleh lebih dari sekadar pengertian yang sepintas tentang Alkitab, kita harus memperoleh gambaran yang jelas mengenai sejarah yang tercatat di dalamnya. Kita dapat membagi sejarahnya dalam periode Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
 I. Sejarah Perjanjian Lama.
 II. Sejarah Intertestamental.
 III. Sejarah Perjanjian Baru.
Dan, yang akan kita bahas sekarang adalah mengenai Periode Perjanjian Baru.

  1. Sejarah Periode Perjanjian Baru
Sejarah Perjanjian Lama melukis gambaran yang hidup mengenai urusan Allah dengan manusia; namun tidak memberikan seluruh kisah rencana Allah untuk menebus manusia dari dosa. Perjanjian Baru membawa kita kepada klimaks karya penebusan Allah, karena memperkenalkan kita kepada Sang Mesias, Yesus Kristus, dan kepada permulaan jemaat-Nya.
  1. Kehidupan Kristus.
Tulisan-tulisan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes bercerita mengenai pelayanan Yesus. Penulis-penulis ini adalah saksi mata kehidupan Yesus atau mereka menuliskan apa yang diceritakan kepada mereka oleh saksi-saksi mata, namun mereka tidak memberikan biografi Yesus yang lengkap. Segala sesuatu yang mereka catat benar-benar telah terjadi, tetapi mereka memusatkan perhatian pada pelayanan Yesus dan meninggalkan kekosongan-kekosongan di tempat lain dalam kisah kehidupan-Nya.
Orang-orang yang menulis kitab-kitab Injil melakukan hal yang sama. Tujuan mereka ialah menjelaskan pribadi dan pekerjaan Yesus dengan jalan mencatat apa yang diperbuat dan dikatakan-Nya. Dan setiap penulis menyajikan pandangan yang sedikit berbeda tentang Yesus dan perbuatan-Nya. Para penulis kitab Injil tidak berusaha menceritakan semua kejadian dari masa anak-anak Yesus karena bukan itulah alasan mereka untuk menulis. Mereka juga tidak mencoba memberi catatan harian dari kehidupan Yesus. Mereka hanya menulis hal-hal yang berarti untuk keselamatan dan kemuridan.
Setelah Yesus lahir, orang tuanya menyerahkan Dia di Bait Suci di Yerusalem (Luk. 2:22-28). Mereka mulai mendidik Dia untuk hidup "dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52). Raja Herodes ingin memastikan bahwa rakyatnya tidak akan bersatu keliling raja yang masih bayi itu dan mulai memberontak, maka ia memerintahkan tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem (Mat. 2:16). Keluarga Yesus melarikan diri ke Mesir agar lolos dari perintah yang jahat itu. Setelah Herodes meninggal, mereka kembali ke Palestina dan menetap di kota Nazaret.[1]
Alkitab tidak menceritakan apa-apa lagi tentang Yesus sampai ia berusia 12 atau 13 tahun. Lalu, untuk mengambil peran-Nya yang layak dalam jemaat orang Yahudi, Ia harus mengadakan kunjungan khusus ke Yerusalem dan mempersembahkan kurban di Bait Suci. Sementara berada di Yerusalem, Yesus bercakap-cakap dengan para pemimpin agama tentang kepercayaan Yahudi. Ia menyatakan pengertian yang luar biasa tentang Allah yang benar, dan jawaban-Nya membuat mereka kagum. Kemudian, orang tua-Nya pulang dan menemukan bahwa Yesus tidak ada. Mereka menemukan Dia di Bait Suci sedang bercakap-cakap dengan para ahli Yahudi.Sekali lagi, Alkitab berhenti berbicara tentang Yesus sampai ia memperkenalkan kita kepada kejadian-kejadian yang mengawali pelayanan Yesus ketika ia berumur sekitar 30 tahun.
Akhir kehidupan Yesus di bumi diawali oleh Yudas Iskariot, seorang dari kedua belas murid Yesus, mengkhianati Dia kepada para pemimpin di Yerusalem yang memusuhi Dia dan mereka memaku Dia pada sebuah salib untuk mati di antara penjahat-penjahat yang kasar. Tetapi Ia bangkit dari kubur dan menampakkan diri kepada banyak pengikut-Nya, sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya, lalu memberi petunjuk-petunjuk akhir kepada murid-murid-Nya yang paling dekat. Sementara mereka memperhatikan Dia naik ke surga, tampaklah seorang malaikat yang berkata bahwa mereka akan melihat Dia kembali dengan cara yang serupa. Dengan kata lain, orang dapat menyaksikan kedatangan-Nya kembali dalam tubuh jasmani-Nya.
  1. Pelayanan Para Rasul.
Sejarah Alkitab berakhir dengan Kitab Kisah Para Rasul yang memerikan pelayanan gereja yang mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bagaimana berita tentang Yesus - pesan penebusan - tersebar dari Yerusalem ke Roma, pusat dunia Barat. Kitab Kisah Para Rasul memperlihatkan perluasan gereja (a) di Yerusalem, (b) dari Yerusalem ke Yudea, Samaria, dan daerah sekitarnya, dan (c) dari Antiokhia ke Roma.
1)      Di Yerusalem.
Pengalaman-pengalaman yang mula-mula dari murid-murid Yesus di Yerusalem menyatakan banyak hal mengenai gereja yang mula-mula. Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan betapa bersungguh-sungguh orang-orang Kristen ini menyebarkan berita tentang Yesus.
Petrus berbicara atas nama gereja pada hari Pentakosta; ia membentangkan pentingnya Kristus sebagai Tuhan pohon keselamatan (Kis. 2:14-40). Roh Kudus memberi kuasa kepada gereja untuk mengadakan tanda-tanda dan keajaiban yang mengukuhkan kebenaran pesan ini (Kis. 2:43). Yang khususnya penting adalah penyembuhan seorang pengemis oleh para rasul dekat gerbang bait suci (Kis. 3:1-10). Peristiwa ini menimbulkan pertentangan di antara para rasul dengan para pemimpin Yahudi.
Gereja memelihara persekutuan yang akrab di antara anggota-anggotanya. Mereka makan bersama-sama di rumah-rumah mereka; mereka juga beribadah bersama-sama dan berbagi kekayaan mereka (Kis. 2:44-46; 5:32-34). Sepasang suami istri, Ananias dan Safira, mencoba menipu jemaat; setelah menjual tanah mereka, mereka menyatakan telah memberi seluruh hasil penjualannya kepada Tuhan, padahal mereka hanya memberi sebagian. Karena berdusta, mereka dihukum Allah dan rebah mati (Kis. 5:1-11).
Karena gereja terus bertambah besar, penguasa-penguasa pemerintah mulai menganiaya orang Kristen dengan terang-terangan. Ketika Petrus dan beberapa rasul lain dipenjarakan, seorang malaikat melepaskan mereka, tetapi mereka disuruh menghadap kembali pada para penguasa yang memerintah mereka untuk berhenti berkhotbah tentang Yesus (Kis. 5:17-29). Akan tetapi, orang Kristen tidak mau berhenti berkhotbah, meskipun para pemimpin agama Yahudi mendera mereka dan memenjarakan mereka beberapa kali.
Gereja bertambah dengan begitu pesat sehingga para rasul memerlukan bantuan dalam beberapa perkara praktis dari pengurusan gereja, khususnya pelayanan mereka kepada para janda. Mereka mengangkat tujuh orang diaken untuk melaksanakan tugas ini. Seorang dari ketujuh diaken ini, Stefanus mulai berkhotbah di jalan. Akhirnya, para pemimpin agama melempari dia dengan batu sampai mati (Kis. 7:54-60).
2)      Dari Yerusalem Sampai ke Seluruh Yudea.
Tahap kedua dari pertumbuhan gereja memulai penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Hampir semua orang percaya melarikan diri dari kota (Kis. 8:1). Ke manapun orang Kristen pergi, mereka bersaksi, dan Roh Kudus memakai kesaksian mereka untuk memenangkan orang lain kepada Kristus (Kis. 8:3 dst). Misalnya, seorang di antara tujuh pembantu rasul itu, yang bernama Filipus, bercakap-cakap dengan seorang diplomat Etiopia, yang menjadi orang Kristen dan membawa kabar baik itu ke tanah airnya (Kis. 8:26-39).
Pada saat ini, Alkitab menceritakan pertobatan Saulus dari Tarsus. Sebelum pertobatannya Saulus menganiaya jemaat. Ia memperoleh surat-surat dari para pemimpin Yahudi di Yerusalem yang memberi kuasa kepadanya untuk pergi ke Damsyik untuk memastikan bahwa orang-orang Kristen dipenjarakan dan dibunuh. Dalam perjalanan itu, Kristus merobohkan dia dan menantang dia. Saul menyerah dan demikianlah mulai suatu kehidupan baru. Dalam hidup baru ini ia memakai nama Romawinya, Paulus, sebagai ganti nama Yahudinya, Saulus. Dalam keadaan buta, Allah membawa dia ke Damsyik, di mana Allah mengutus seorang pria Kristen kepadanya. Dengan perantaraan Ananias, penglihatan Paulus dipulihkan dan ia dipenuhi dengan Roh Kudus. Paulus mulai memberitakan Yesus di rumah sembahyang orang Yahudi, dan para pemimpin Yahudi menghalau dia dari Damsyik. Beberapa waktu kemudian (bdg. Gal. 1:17-2:2) ia pergi ke Yerusalem. Di sana ia mengadakan hubungan kerja dengan para rasul.
Kita juga harus memperhatikan pelayanan Petrus, yang secara istimewa ditandai oleh berbagai mukjizat. Petrus adalah pemimpin yang paling terkemuka dari para rasul dan pelayanannya membangkitkan kembali semangat jemaat yang mula-mula. Tuhan memakai Petrus untuk membuka pintu keselamatan kepada orang-orang bukan Yahudi. Ketika Petrus bekerja di Yerusalem, sudah terdapat petunjuk bahwa ia membaptis seorang warga Roma bernama Kornelius bersama keluarganya di Kaesaria, dekat Yerusalem.[2]
Pada titik ini catatan sejarah Alkitab dengan singkat beralih kepada perluasan Injil di antara orang-orang bukan Yahudi di Antiokhia (Kis. 11: 19-30). Kemudian kita membaca tentang kematian Yakobus sebagai seorang syahid di Yerusalem dan bagaimana Petrus dibebaskan dari penjara secara ajaib (Kis. 12:1-19).
3)      Dari Antiokhia ke Roma.
Bagian sisa dari Kitab Kisah Para Rasul menggambarkan perluasan gereja melalui pelayanan Rasul Paulus. Barnabas telah membawa Paulus ke Antiokhia (Kis. 11:19-26). Di Antiokhia Roh Kudus memanggil Barnabas dan Paulus untuk menjadi misionaris dan gereja menahbiskan mereka untuk tugas itu (Kis. 13:1-3). Barnabas dan Paulus di dalam misinya tidak henti-hentinya menyatakan dan menegaskan bahwa Yesus itu adalah Almasih (Christos), maka orang sekitarnya memanggil mereka dengan sebutan para oengikut Kristus (Christians).[3]
Biasanya, Paulus dan Barnabas akan mulai dengan berkhotbah di dalam rumah sembahyang Yahudi setempat. Dengan demikian jemaat yang mula-mula terutama terdiri atas para petobat di antara orang Yahudi dan "orang-orang yang takut akan Allah" (orang bukan Yahudi yang beribadah bersama orang Yahudi).
Tempat persinggahan berikutnya adalah Korintus, di mana Paulus dan kawan-kawannya tinggal selama satu setengah tahun. Dari sana mereka kembali ke Antiokhia lewat Yerusalem (Kis. 18:18-22). Selama ini, Paulus dan kawan-kawannya terus berkhotbah di rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan menghadapi perlawanan dari beberapa orang Yahudi yang menolak Injil (Kis. 18:12-17). la juga mengadakan kunjungan singkat pada gereja-gereja di Galatia dan Frigia (Kis. 18:23).
Di Efesus ia membaptis 12 murid Yohanes Pembaptis yang telah menerima Kristus dan mereka menerima Roh Kudus (Kis. 19:1-6). Ia berkhotbah di sekolah Tiranus di Efesus selama hampir 2 tahun (Kis. 19:9-10).
Di Yerusalem, Paulus mengalami kesukaran dan dipenjarakan. Alkitab mencatat suatu pidato yang disampaikannya untuk membela iman Kristennya (Kis. 22:1-21). Akhirnya, para pemimpin agama berhasil mengirim dia ke Roma untuk diadili. Dalam pelayaran ke Roma, kapal yang mengangkutnya karam di pulau Malta ("Melite"). Di pulau itu seekor ular berbisa memagut Paulus, tetapi ia tidak terluka (Kis. 28:3-6). Kemudian Paulus menyembuhkan penyakit ayah Publius, pemimpin politik di pulau itu (Kis. 28:7-8). Setelah tiga bulan di Malta, Paulus dan para pengawalnya berlayar ke Roma.
Kitab Kisah Para Rasul berakhir dengan kegiatan-kegiatan Paulus di Roma. Kita membaca bahwa ia berkhotbah kepada orang-orang Yahudi yang terkemuka di kota itu (Kis. 28:17-20). Ia tinggal selama 2 tahun di sebuah rumah sewaan dan terus memberitakan Injil kepada orang-orang yang mengunjunginya (Kis. 28:30-31). Untuk mendapat uraian yang lebih rinci mengenai kehidupan Paulus, lihat "Paulus dan Berbagai Perjalanannya."
Dengan demikian berakhirlah sejarah penebusan di Alkitab. Injil telah ditanam dengan efektif di tanah bukan Yahudi dan bagian terbesar dari Surat-Surat Kiriman Perjanjian Baru telah ditulis. Gereja sedang dalam proses memisahkan diri dari rumah ibadah Yahudi dan menjadi suatu organisasi yang nyata.

  1. Kitab Perjanjian Baru (PB)

Kitab Perjanjian Baru adalah bagian dari Alkitab Kristen yang ditulis setelah kelahiran Yesus Kristus. Kata "Perjanjian Baru" merupakan terjemahan dari bahasa Latin, Novum Testamentum, yang merupakan terjemahan Yunani: ΗΚαινη Διαθηκη, I Keni Diathiki. Umat Kristen awal berpendapat bahwa kitab ini merupakan penggenapan isi nubuat yang ada di Alkitab Ibrani yang sudah ada dan kemudian diberi nama Perjanjian Lama. Perjanjian Baru kadang-kadang disebut sebagai Kitab Yunani Kristen karena ditulis dalam bahasa Yunani oleh para pengikut Yesus yang belakangan dikenal sebagai orang Kristen.

Teks asli Perjanjian Baru ditulis oleh beberapa orang penulis setelah sekitar tahun 45 M, kemungkinan besar dalam Bahasa Yunani Koine,[4] lingua franca Kekaisaran Romawi bagian timur. Rylands Library Papyrus P52 umumnya dianggap sebagai saksi tertua yang masih ada untuk teks Perjanjian Baru, dibuat antara tahun 117 dan 138 Masehi.
E.     Kesetaraan Perempuan dalam  Perjanjian Baru

Konsep yang ideal bagi status perempuan ini dipulihkan dalam PB melalui pekerjaan Yesus Kristus. Dalam hal mana ukuran penentuan status seorang anggota Kerajaan Allah bukan lagi jenis kelaminnya tetapi ketaatannya melakukan kehendak Allah (Mark. 3:31–35). Bahkan dengan jelas dikemukakan bahwa dalam Dia tidak lagi ada perbedaan status karena perbedaan jenis kelamin (Gal. 3: 27–28). PB lebih sering merefleksikan status yang ideal yang telah atau seharusnya dipulihkan ketimbang PL. Ini tampak dari sikap dan pandangan Yesus yang menjunjung tinggi perempuan (Mrk. 5: 25–34; 7: 24–30; 12: 18–27; 41–44; Luk. 4: 23–30; 7: 11–17; 11: 27–28; 13: 10–17; 13: 34; Yoh. 4), dari persiapan pelayanan bagi perempuan dan laki-laki yang sama (Kis. 1: 12–14; 2: 1–4, 16–18; dan dari pelayanan perempuan sebagai mitra laki-laki (mencakup pelayanan bernubuat dan mengajar) dalam masyarakat (Mark. 1: 29–31; 14: 3–9; 16: 1– 8; Luk.1: 26–56; 2: 36–38; 8: 1–3; 10: 38–42; 15: 8–10; Yoh. 11: 1–46; Kis. 12: 12–17; 17: 4, 12; 18: 1–4, 2–28; 21: 8; Roma16: 1–16).

Status dan peran yang ideal inilah yang harus diperjuangkan sebagai pola kesejajaran status perempuan dan laki-laki bukan hanya dulu tetapi juga kini dan bukan hanya oleh perempuan bahkan oleh semua orang beriman. Dan bagian Alkitab yang berisi status dan peran yang tak ideal, bahkan kadang-kadang sepertinya memperlihatkan diskriminasi terhadap perempuan, bukan ditolak tetapi dipelajari sosial budaya yang melatarbelakanginya dan tujuan penulisannya, sehingga ditemukan apa yang mau diajarkan melaluinya kepada pembaca dulu dan kini.[5]

Ajaran tentang kesetaraan nampak dalam konsep tentang persamaan dalam penebusan dosa dan keselamatan (redemption and salvation). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk penebusan (dosa) dan keselamatan. Do’a-do’a yang dipanjatkan oleh laki-laki dan perempuan dalam agama Kristen sama-sama akan dikabulkan Tuhan tanpa rintangan. Lebih dari itu, suami dan istri harus saling memahami, dan laki-laki harus menunjukkan penghormatan kepeda perempuan karena perempuan adalah makhluk yang lemah. Kelemahan fisik perempuan terjadi karena mewarisi keagungan kehidupan. Sebagaimana kutipan berikut ini: “Likewise, husbands, live with your wives in an understanding way, showing honor to the woman as the weaker vessel, since they are theirs with you of the grace of life, so that your prayers may not be hindered” (1 Peter 3:7).

Persamaan dalam relasi suami istri merupakan ajaran tentang kesetaraan gender yang kurang tersosialisasikan. Statement terkait relasi suami istri yang seharusnya saling melengkapi, saling mengasihi, saling berbagi, dan saling menutupi kekurangan masing-masing dapat dilihat dalam surat St. Paul’s kepada orang-orang Korintian. Sahabat Yesus Kristus tersebut, misalnya, menekankan bahwa dalam perkawinan tubuh istri adalah milik suaminya dan tubuh suami adalah milik istrinya (Corintus 7:4). Begitu juga, pada surat yang dikirimkan kepada orang-orang Galasia, perempuan dan laki-laki adalah satu dalam Yesus Kristus (Woman and Man are one in Christ Jesus) (Corintus 3: 28). Bahkan, St. Paul membolehkan perempuan untuk membantunya dalam urusan kependetaan dan menjanjikannya untuk berkhutbah dan melakukan pengajaran agama (Acts 18:1-3, 24:26, Romans 16:1-2, 1 Corintians 11:5, Titus 2:3). Kutipan-kutipan tersebut dengan jelas menunjukkan kesukaran dan kemitraan antara suami istri yang kerap luput dari pemahaman umat kristiani yang hidup pada masyarakat Patriatkhal.

Kewajiban suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara-cara yang baik dan penuh respect juga menjadi ajaran yang tertera dalam kitab suci. Secara gamblang Al-kitab mengajukan argumentasi mengapa laki-laki harus melakukan perempuan dengan respect, karena perempuan adalah partner yang lemah dan merupakan hadiah dari kehidupan yang penuh keindahan (1 Petter 3:7). Jadi, kelemahan perempuan dalam konteks firman Tuhan tersebut dianggap sebagai hadiah yang harus disyukuri karena justru membawa keindahan dan kebaikab, bukan sebaliknya membawa kerugian dan kehinaan.[6]

Ajaran Kristen menjelaskan bahwa kehidupan selibat, virginitas, dan hidup menjanda banyak dilakukan para tokoh suci yang menjadi teladan mereka, seperti the Virgin Maria (Ibunda Yesus), St John the Baptist, St Paul dan anak-anak perempuan Philip (Acts 21:8-9). Juga Anna, seorang janda yang tidak pernah meninggalkan gereja karena memuja Tuhan Allah dengan cara terus menerus berpuasa dan sembahyang siang dan malam (Luke 2:37).

Selain itu, perempuan dan laki-laki memiliki persamaan dalam membantu dan melayani orang lain yang memang membutuhkan, sesuai dengan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci. Perempuan, sama seperti laki-laki, dipanggil untuk melayani oarang lain, menyatakan buah Roh(Galatia 5:22-23, dan untuk memproklamirkan Injil kepada mereka yang belum mengetahuinya (Matius 28:18-20;Kisah Rasul 1:8; 1 Petrus 3:15).

Begitu pula terkait dengan kebolehan perempuan dalam melakukan pelayanan dalam gereja. Ini dimungkinkan karena perempuan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki laki-laki, seperti keramahan, kemurahan, ketelatenan baik dalam mengajar maupun ketika menolong orang lain. Bahkan, seringkali pelayanan gereja tergantung kepada para perempuan. Oleh karena itu, keterlibatan perempuan dalam gereja tidak hanya dibatasi dalam berdoa di depan umum atau bernubuat (1 Korintus 11:5), tetapi perempuan juga dapat mempraktikkan karunia-karunia Roh Kudus (1 Korintus 12).[7] 

F.     Ketidaksetaraan Perempuan dalam  Perjanjian Baru

Mulai dari zaman Gereja Mula-mula hingga Abad Pertengahan, wanita masih dilihat sangat subordinat dan tidak relevan dalam masyarakat. Budaya patriarki[8]—budaya yang memberi privilege lebih kepada pria sebagai pemimpin—masih sangat kental, di mana patriarki sendiri merupakan warisan dari budaya kuno baik kebudayaan Yahudi dan kebudayaan Timur Dekat Kuno pada umumnya. Dan memang pandangan para Bapa Gereja serta theolog ini bukannya tidak berdasar pada Alkitab, mereka tetap menjadikan Alkitab sebagai acuan utama. Hanya saja, ketika sampai pada pembahasan tentang wanita, ada banyak interpretasi yang yang cenderung ekstrem dan parsial. Para Bapa Gereja dan theolog tentu akan mengklaim bahwa pandangan mereka berasal dari apa yang Alkitab ajarkan. Permasalahannya, tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan mereka tetap sifatnya adalah interpretasi.

Agama Kristen dalam mempelajari perempuan berangkat dari cerita Hawa yang dianggap sebagai ibu dari semua manusia. Tradisi dan kepercayaan umum memandang Hawa sebagai perempuan lebih rendah dari Adam, yang laki-laki, dalam hal fisik, moral, intelektual dan spiritual. Ajaran ini ditegaskan oleh para nabi (agama Yahudi) dan para baoak Gereja (agama Kristen Katolik). Asal Hawa dari rusuk Adfam merupakan “pembenaran” status inferior dari perempuan. Dalam Surat Paulus 1 Korintus 11:7-9, status ini ditegaskan lagi, bahwa perempuan diciptakan karena laki-laki.

Beberapa perikopa dalam Kitab Suci oleh para bapa Gereja ditafsir memojokkan perempuan. Seperti misalnya 1 Korintus 14: 34-35, di mana perempuan tidak diberi hak untuk bicara dalam pertemuan jemaat. Apabila perikopa ini ditafsir secara tekstual saja, maka mitos bahwa perempuan bicara dalam pertemuan jemaat tidak sopan, akan terus hidup. Hal ini ditegskan lagi dalam 1 Timotius 2: 8-15.

Bersumber dari materi yang tertulis dalam Kitab Suci dibuat ajaran, dan peraturan untuk ibadah. Kekuasaan mulai ditentukan, seperti dalam Gereja Katolik yang berkuasa adalah laki-laki. Perempuan tidak boleh menjadi imam dan pemimpin upacata/ibadah. Gereja Katolik struktur patriarkinya sangat kuat. Hirarki dikuasai oleh laki-laki. Perempuan dilibatkan dalam pelayanan, tetapi hampir tidak pernah dilibatkan dalam mengambil keputusan. Pekerjaan perempuan cenderung selalu melayani laki-laki walaupun Kitab Suci mengatakan bahwa Gereja adalah tubuh Kristus (efesus 4:16), namun yang dianggap tubuh hanya laki-laki saja. Pengangkatan Maria sebagai Ibu Gereja belum berhasil mengubah struktur Gereja Katolik.

Akhirnya, perlu perenungan yang mendalam, bahwa banyak mitos yang diciptakan oleh agama, baik melalui ajaran maupun praktik kehidupan sehari-hari yang menempatkan perempuan dan laki-laki tidak manusiawi lagi.[9]    

Dalam Alkitab disebutkan bahwa: “Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepada dari Kristus ialah Allah sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tapi perempuan berasal dari laki-laki.” (1 Kor 11:3, 8). Mayoritas Teolog Kristen menyatakan tatanan sosial laki-laki (patriarkhis) dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam. Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa kepemimpinan laki-laki sifat yang melekat secara natural dan dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu, menempatkan perempuan sebagai kelas dua merupakan keharusan dan beragam upaya untuk menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dianggap sebagai perbuatanyang melanggar ketentuan Tuhan. Bila ini terus dilakukan, maka akan menimbulkan kekacauan moral dan sosial.

Cara pandang seperti ini menafikan kebebasan perempuan untuk memilih, dan untuk bersikap mandiri. Tragisnya, seorang istri tidak dibeanrkan untuk memberontak atau hidup sendirian, meskipun suaminya seorang pelaku kekerasan, penjudi, pemabuk, pendosa dan suka bersikap lalim.

Superioritas kaum laki-laki seperti ini didasarkan pada teks-teks agama yang nampaknya bias gender, sebagaimana diungkapkan dalam Alkitab “Hai Istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala Jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana Jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu” (Efresus 5: 22-24).

Kekuasaan laki-laki yang begitu dominan seperti ini pada akhirnya berimplikasi pada larangan perempuan untuk berbicara di depan publik. Seprti kutipan berikut ini: “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan yang berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat” (1 Kor 14 ayat 34). Mayoritas umat Kristiani di Indonesia khususnya umat Katolik, hingga sekarang ini masih secara kuat mendukung pandangan tersebut.

Larangan perempuan berbicara di ruang publik berimplikasi sangat serius pada larangan perempuan menjadi pendeta seperti tertera dalam kitab Injil yaitu: “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Timotius 2: 11-12).

Argumen yang biasanya digunakan untuk pelarangan tersebut adalah karena Adam lebih dahulu diciptakan, kemudian barulah Hawa. Dengan begitu, Adam lebih tinggi nilainya daripada Hawa. Alasan lainnya nampak sangat stereotifikal seperti perempuan itu lemah, kurang percaya diri, emosional, mudah tergoda dan lain-lain. Kejatuhan Adam dari Surga diyakini karena tergoda bujukan Hawa. Bible menyatakan “Perempuan (Hawa) yang tergoda Iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikit memakan buah tersebut dan melanggar larangan Tuhan” (Ulangan pasal 3 ayat 6, lihat juga 1 Tim 2: 13). Karena itulah, Alkitab selalu menyalahkan perempuan atas dosa yang dilakukan Adam. Dan yang menarik, meski Adam juga memakan buah larangan tapi hanya Hawa yang dinyatakan berlumuran dosa, sementara Adam tidak. Alkitab menjelaskan, “lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (1 Timotius pasal 2 ayat 11-14).

Kalangan Feminis beranggapan bahwa pandangan tersebut bisa dikritisi karena sebenarnya 1 Timotius pasal 2 ayat 11-14 sama sekali tidak menyinggung latar belakang pendidikan. Kalau kualifikasi pendidikan menjadi syarat untuk pelayanan, maka bagaimana dengan mayoritas murid laki-laki Yesus yang juga berpendidikan rendah. Sangat mungkin mereka tidak akan memenuhi syarat tersebut, namun nyatanya mereka menjadi pengkhotbah sepeninggal Yesus. Alasan lainnya yang dikemukakan para Feminis bahwa Paulus memang membatasi perempuan, namun itu hanya ditunjukkan kepada perempuan-perempuan Efesus dari pelayanan (1 Timotius ditulis kepada Timotius yang adalah pendeta dari gereja Efesus). Larangan tersebut seharuanya dikaitkan dengan konteks sosial historis. Kota Efesus saat itu terkenal dengan Kuil Artemis, seorang dewi Roma atau Yunani. Dengan demikian, perempuan sebenarnya sudah mampu menjadi pemegang kekuasaan. Namun demikian, kitab 1 Timotius sama sekali tidak menyinggung tentang persoalan tersebut. Paulus juga tidak menyinggung penyembahan pada Artemis sebagai dalih dari larangan dalam 1 Timotius pasal 2 ayat 11-12.[10]

Ajaran Kristen yang merendahkan perempuan juga nampak pada anggapan perempuan sebagai najis. Agak mirip dalam tradisi Hindu, Alkitab juga beranggapan bahwa seorang perempuan yang mengalami menstruasi dianggap najis dan apapun yang disentuhnya telah terkena najis (Efesus 5: 19-27). Implikasinya adalah perempuan harus mengasingkan diri. Dan tidak cukup sampai di situ, menstruasi dipandang sebagai dosa sehingga perempuan yang mengalaminya harus melaksanakan upacara korban penghapusan dosa (Efesus pasal 5 ayat 28-30) selain itu, ajaran Kristen lainnya yang menganding bias gender adalah konsep bahwa perempuan sebagai hak milik laki-laki yang bisa dialihkan kepada siapa saja. Karena itu, seorang istri yang ditinggalkan mati suaminya harus kawin dengan saudara laki-laki suaminya (Ulangan 25: 5). Selain itu, perempuan juga dianggap sebagai rampasan perang (Ulangan 20: 14, Ulangan pasal 31 ayat 9, II Twarikh 28: 8, Hakim-hakim 21: 14).[11]

G.    Status dan Peran Perempuan dalam Perjanjian Baru

Partisipasi perempuan dalam bidang keagamaann dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Maria Magdalena adalah satu-satunya perempuan yang disebutkan di keempat Injil, selain sang Perawan maria. Ia muncul pertama kalinya selama pelayanan Yesus di Galilea. Dia juga orang pertama yang menjadi saksi dari kebangkitan Yesus dari kuburnya sebagaimana diakui oleh keempat Injil. Namun, sebagian Feminis Kristiani menyebutkan bahwa Gereja selama ini tidak berlaku adil padanya karena perannya sebagai orang terdekat Yesus dimarjinalisasikan.  

Ada daerah yang khusus dikenal di dalam Rumah Allah dengan nama "Halaman Wanita", karena wanita-wanita tidak diperkenankan masuk ke dalam halaman Bait Allah.

Dari sumber-sumber yang khusus, diceritakan pada kita bahwa wanita-wanita tidak diperkenankan untuk membaca atau berbicara di dalam Bait Allah, tetapi mereka dapat duduk dan mendengarkan di tempat yang dikhususkan untuk wanita. Hanya dalam rumah-rumah ibadah yang menjalankan dasar-dasar Hellenistik para wanita diizinkan untuk masuk.

Bait Allah orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus, menekankan tata cara tentang laki-laki dan perempuan secara jelas di dalam kegiatan-kegiatan agama mereka. Ada enam halaman dan ruangan-ruangan yang terpisah:

1)      Di paling luar adalah halaman orang asing dan orang kafir;
2)      Halaman berikutnya tidak boleh dimasuki oleh orang kafir, hukuman bagi pelanggar adalah kematian. Ini terdiri dari dua bagian:
3)      Halaman yang khusus dipakai oleh wanita dan halaman orang Israel yang khusus dipakai oleh orang laki-laki Yahudi;
4)      Pelataran (halaman), yang menuju ke Ruangan Suci. Yang diperbolehkan masuk adalah para imam saja.
5)      Ruang Suci; dan
6)      Ruang Maha Suci

Namun, gambaran yang berbeda dibukakan oleh pelayanan dari Yesus. Lukas 8:1-3 menunjukkan bahwa Yesus mengijinkan beberapa wanita untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia memberi semangat pada Martha dan Maria untuk duduk pada kaki-Nya sebagai murid-murid-Nya (Luk 10:38-42). Penghargaan Yesus pada wanita adalah sesuatu yang baru dan sangat menyolok, dan sangat berbeda dari perlakuan orang-orang Farisi dan Saduki.

Di dalam pekerjaan keselamatan dari Kristus, semua dinding-dinding pemisah itu dipatahkan; dan setiap orang beriman, tidak memandang suku, jenis kelamin atau hal-hal yang lain, mempunyai akses yang sama di hadapan Tuhan. "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak (Yahudi dan bangsa Kafir), dan yang telah merobohkan tembok pemisah yaitu persekutuan" (Ef 2:14).

Zaman kemurahan Kristen yang baru telah mengantar ke era yang baru. Di dalam Kristus, semua pemisah itu telah dihapuskan antara Yahudi dan bangsa-bangsa Kafir, antara laki-laki dan wanita dan antara imam-imam dan orang biasa (Why 1:16).

"Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi dan orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus Kristus" (Gal 3: 27,28).

H.    Yesus Kristus dan Transformasi Sosial Kehidupan Perempuan

Selama ratusan tahun masyarakat Yahudi selalu menindas perempuan. Perempuan seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi. Banyak hak-hak perempuan yang terampas, termasuk hak untuk memperoleh pendidikan, ekonomi dan lain-lain. Di tengah kehidupan perempuan yang terpuruk, Yesus Kristus hadir dan melakukan beragam transformasi sosial pada kehidupan perempuan.

Yesus Kristus, misalnya, melakukan tindakan-tindakan progresif dan bahkan revolusioner dalam mengangkat martabat perempuan. Ketika masyarakat pada umumnya memarginalisasikan dan menindas hak perempuan, Yesus justru sebaliknya memperkenalkan ajaran-ajaran yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku saat itu. Strategi reformis Yesus Kristus dengan cara memperkenalkan gagasan dan norma-norma baru dan membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang mensubordinasikan perempuan, merupakan prilaku yang perlu diteladani oleh umat Kristiani. Pembebasan berbasis agama terhadap perempuan sudah seharusnya dilakukan.

Kisah-kisah berikut ini merupakan bukti transformasi sosial yang dilakukan Yesus dalam meningkatkan kualitas kehidupan perempuan. Misalnya, Yesus Kristus mengajarkan bagaimana seorang laki-laki harus menghargai perempuan. Umat Kristiani meyakini bahwa Yesus merupakan sosok yang sangat menghargai perempuan. Selama masa hidupnya, Yesus memperlakukan perempuan dengan santun. Ketika mengajar murid-murid perempuan, ia tidak pernah mengajarkan kata-kata yang menghina atau merendahkan martabat perempuan. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan Yesus Kristus terhadap perempuan Samaria di sebuah sumur di desa Sikhar, daerah Samaria (Yohanes 4:1-42). Sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan praktik sosial yang berlaku bagi lelaki Yahudi pada saat itu. Apalagi Yesus kemudian mengajarkan perempuan tersebut dan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Para sahabat Yesus sangat terkejut dengan tindakan guru mereka, sebagaimana dicatat dalam Yohanes 4:27, “Pada waktu itu, datanglah murid-muridNya dan mereka heran bahwa ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.” Fenomena yang berkembang saat itu adalah prilaku Yesus berbanding terbalik dengan nilai-nilai yang diajarkan para Rabbi Yahudi yang justru melarang para lelaki berbicara dengan perempuan di depan umum. Tugas profetik semacam ini seharusnya menginspirasi umat Kristiani untuk mengubah cara pandang dan prilaku mereka terhadap perempuan.

Sikap revolusioner Yesus Kristus juga nampak dalam perlakuannya terhadap seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur, yang “tertangkap basah” sedang melakukan perzinahan (Yohanes 7:53—8:11). Yesus sama sekali tidak menghakimi dan menyudutkan perempuan tersebut sebagai pendosa dan berprilaku amoral. Ia sebaliknya berusaha menyadarkan masyrakat Yahudi bahwa dosa dan kesalahn tidak hanya ditimpakan kepada perempuan pekerja seksual tersebut, tetapi pada seluruh laki-laki hidung belang yang telah memanfaatkan tubuhnya. Dengan nada keras, ia menyatakan, “Barang siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes: 7). Namun, tak ada satu pun di antara laki-laki tersebut yang berani melemparkan batu ke arah perempuan tersebut. Artinya, tak ada satu pun laki-laki yang tak merasa berdosa. Menyadari hal tersebut, mereka satu per satu pulang ke rumah masing-masing. Sebaliknya, dengan nada lembut Yesus berkata kepada sang pelacur, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Ini merupakan contoh kongkrit bagaimana Yesus menerapkan keadilan gender pada masyarakatnya. Suatu bentuk keadilan yang sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi masyarakat Yahudi.

Yesus juga mengajarkan bagaimana seorang laki-laki harus memperlakukan istrinya. Konsep suami harus menyayangi istrinya dan memperlakukan istrinya secara baik juga sebenarnya diajarkan oleh Yesus Kristus. Beragam Injil menyatakan sikap Yesus yang mengutuk perselingkuhan dan perceraian (Matius 5:27-28 dan 19:3-1) karena perceraian suami istri dianggap-Nya sebagai bentuk dari arogansi laki-laki Bani Israel. Bila dilihat dalam konteks sosio-historisnya, saat itu banyak laki-laku yang menceraikan istrinya karena alasan yang sangat sepele, seperti menyajikan makanan yang basi, berbicara keras-keras sampai didengar tetangganya, atau suami jatuh cinta pada perempuan yang lebih cantik dari istrinya.

Selain melalui contoh-contoh dan teladan yang baik terkait penghargaan terhadap perempuan, Yesus juga menggunakan media khutbah untuk mendorong transformasi sosial di masyarakat Israel. Yesus pernah dua kali menggunakan perempuan sebagai perumpamaan dalam khutbah yang disampaikannya. Pertama, ketika ia ingin menceritakan kedermawanan seorang janda Sarfat, untuk mengkritik para lelaki di kota Nazaret yang terkenal pelit (Lukas 4:25-26). Kedua, ia menceritakan Ratu Sheba yang datang dari Selatan (Arabia) untuk mendengarkan hikmat nabi Sulaeman dan kemudian meyakininya. Tamsil Ratu Sheba sengaja dipaparkan untuk mengkritik para ulama Yahudi dari mazhab Farisi yang meskipun belajar Torah tetapi tidak mengerti dan tidak percaya kepada Hikmat Ilahi (Lukas 11-31). Ketiga, Yesus juga menggunakan figur seorang perempuan yang patut diteladani terkait keimanan dan kegigihannya untuk membela  perkaranya terhadap seorang hakim yang tidak adil (Lukas 18:1-2) dan perempuan yang mencari mata uang yang hilang (Lukas 15:8-10). Sikap Yesus Kristus yang rendah hati, menghormati dan menghargai perempuan, mendukung aktivitas perempuan serta meningkatkan martabat perempuan, seharusnya diteladani dan dipraktikkan oleh para pengkhotbah modern zaman ini. Sebaliknya, sampai saat ini masih ada perempuan yang acapkali dijadikan objek olok-olok di gereja, suatu sikap yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus Kristus.

Perubahan yang paling revolusioner adalah upaya Yesus untuk meningkatkan pengetahuan perempuan dibuktikan dengan transfer pengetahuan keagamaan yang dilakukannya di rumah Maria adan Martha (Lukas 10:38-42), sebuah tindakan revolusioner karena saat itu perempuan dianggap memiliki intelektual yang rendah sehingga tidak akan mampu menangkap dan memahami pesan-pesan agama. Yesus pun menuturkan ada perbedaan yang signifikan antara Maria dan Martha, sementara Maria dengan penuh antusiasme mendengarkan pengajaran yang diberikan Yesus, Martha justru lebih senang memasak di dapur.

Dalam konteks ini dapat diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak mendikotomikan peran publik dan peran domestik sebagaimana dipahami masyarakat patriakhal. Pandangan dikotomis akan berimplikasi pada kurangnya penghargaan tugas-tugas yang satu melecehkan yang lain. Akibatnya, tugas perempuan di ranah domestik dipandang rendah dan tak bernilai karena tidak menghasilkan uang, sementara tugas laki-laki untuk mencari nafkah dinggap jauh lebih bernilai karena menghasilkan uang, padahal adanya perbedaan tugas dan tanggung jawab tidak perlu untuk dipertentangkan.

Prilaku Yesus yang sangat menghargai perempuan berimplikasi kepada kesetiaan beberapa perempuan terhadap-Nya. Bentuk kesetiaan perempuan yang paling mengagumkan dan dicatat oleh keempat Injil yaitu ketika kehadiran murid-murid perempuan yang setia pada saat penyaliban Yesus Kristus. Perempuan pemberani dan tegar yang tetap bersamanya ketika Yesus berada di tiang Salib, sementara semua murid laki-laki Yesus--kecuali Yohanes—melarikan diri ketakutan. Hal ini menunjukkan seorang perempuan memiliki kesetiaan yang seringkali lebih bisa diandalkan daripada para lelaki yang nampaknya berkobar-kobar ingin mengabdi kepada Tuhan, namun realitasnya tak berani menanggung risiko dari tindakan yang dipilih. Murid-murid perempuan ini pula yang tetap bersamanya pada saat kebangkitan Yesus dari kuburnya untuk membawa kabar baik pada murid-murid laki-laki yang saat itu bersembunyi.

Yesus juga memilih seorang perempuan, Maria Magdalena untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan-Nya, padahal, saat itu kesaksian dari perempuan di kalangan masyarakat Yahudi dianggap tidak berarti. Realitas ini tercermin pada reaksi orang-orang Yahudi ketika mendengar kesaksian kaum perempuan itu, “Dan kata-kata mereka ampak bagi mereka hanya sebagai cerita-cerita bohong belaka, dan mereka tidak percaya kepeda mereka.” (Lukas 24:11).

Karena penghargaan Yesus yang sangat tinggi kepada perempuan, popularitas Yesus sangat jauh lebih tinggi dibandingkan para Rabbi Yahudi saat itu. Daya tarik rohani ini menjadi magnet bagi perempuan Yahudi untuk menjadi penganut setia Kristiani. Injil Lukas 8:1-3 mencatat bahwa banyak perempuan yang mengikuti-Nya dan melayani keperluan-keperluan dalam mengemban tugas mesisnis-Nya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana peranan perempuan pada masanya, bila Yesus Kristus tidak pernah melakukan reformasi yang cukup revolusioner di kalangan gereja reformasi kesetaraan dan keadilan gender. Sayangnya, perjuangan Yesus untuk meningkatkan harkat perempuan telah diabaikan oleh para sahabat dan penganut-Nya yang mengaku setia.

Seluruh pemaparan tentang kisah-kisah Yesus tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya misi Yesus adalah untuk membalikkan keyakinan masyarakat saat itu yang semula mengagungkan kelompok elit kepada upaya keberpihakan pada masyarakat marginal. Berlawanan dengan pandangan tradisional tentang dukungan Tuhan kepada kaum saleh tingkat atas, misi Yesus ditujukan kepada mereka yang tidak termasuk khusus ini, yaitu kaum miskin, orang-orang yang tidak suci secara ritual, orang-orang yang terbuang secara sosial dan anggota masyarakat lainnya.

Dengan kata lain, pesan-pesan moral Yesus Kristus sebenarnya mengandung teologi pembebasan bagi kelompok yang terbuang. Itulah sebabnya kalangan feminis Kristen menyebutkan bahwa sebenarnya Injil memuat pandangan-pandangan yang bernuansa feminis. Keyakinan kalangan feminis diperkuat lagi oleh statemen Bibel yang radikal tentang misi Yesus dalam membawa kabar baik yaitu “Menurunkan orang-orang yang kuat dari singgasananya dan mengangkat orang-orang yang rendah.” (Lukas 1:52).[12]

Dimensi Feminin Yesus dalam Paskah

Kata feminin sebagai kata yang disadur dan diadopsi dari bahasa Inggris; feminine dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “feminin” berarti mengenai kewanitaan, bersifat kewanitaan.[13] Dan kata feminin selalu berdampingan dengan kata maskulin.

Dalam kata pengantar buku Prof. Sachiko Murata yang berjudul The Tao of islam, Ratna Megawangi menulis bahwa dimensi feminin lebih condong kepada segala yang berkuaitas pasif dan sifat-sifat keindahan, seperti cinta, kepedulian, sikap kelembutan, sikap mengasuh dan memelihara, dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, dimensi feminin juga memiliki cakupan luas yang dapat dimasukan ke dalamnya, seperti berkorban diri, sikap melayani, kepekaan intuitif, kasih tanpa batas, kedekatan emosional, dan pemaaf, yang semua ini terkandung dalam peristiwa Paskah, yang akan kita kaji. Sedangkan dimensi maskulin diartikan sebagai kualitas yang lebih bersifat aktif dan sifay keagungan, seperti kesombongan, keangkuhan, dominasi, kuasa, independen, keberanian, sikap memberi, dan lain-lain.[14]

Kata paskah berasal dari bahasa Kadim yang kemudian diadopsi ke bahasa Ibrani yakni pesakh. Kata tersebut diambil dari peristiwa pembebasan perbudakan di Mesir, yakni ketika anak-anak sulung di kita Mesir meninggal akibat hukuman yang dijatuhkan kepada mereka. Sementara, ketika kejadian itu, rumah-rumah orang Israel dilewati, sehingga anak-anak sulung mereka selamat.

Paskah merupakan sumber Iman Krsitiani dan menjadi titik tolek seluruh refleksi umat Kristen mengenai Yesus, karena pada Paskah lah puncak ajaran Yesus kepada umatnya. Dan setelah Yesus dieksekusi, banyak kalangan yang meyakini bahwa sebenarnya Yesus masih hidup, tetap berarti, bermakna dan relevan bagi manusia.[15] Karena Penyaliban Yesus dianggap sebagai pembebas manusia dari belenggu dosa sebagaimana Musa yang membebaskan Bani Israel dari ketertindasan, maka Kristen pun mengambil kembali kata “paskah” untuk mengenang peristiwa ini.

Ada beberapa dimensi feminin yang ingin penulis uraikan dalam pembahasan ini, yaitu pengorbanan diri, Tuhan yang dekat, sikap melayani, dan sikap kasih tanpa batas. Dimensi-dimensi feminin ini sangat ngata dalam peristiwa Paskah, namun seringkali dilupakan, bahkan oleh umat Kristiani sendiri.

1)      Pengorbanan diri
Seperti dikatakan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikuti aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku” (Markus 8:34). Pilihan Yesus menempuh sengsara dan mati di tiang gantungan merupakan salah satu dari jalan feminin.

Penderitaan Yesus ini terjadi semata-mata karena kasih-Nya, bukan karena paksaan, namun dijelaskan bahwa penderitaan itu merupakan pilihannya sendiri.

2)      Kedekatan
Yesus sebagai gambaran dari Allah, telah tinggal bersama umat manusia. Kedekatan dengan hidup bersama umatnya, dan kisah perjamuan dengan makan dan minum bersama membawa bukti keramahannya kepada umatnya.

3)      Sikap Melayani
Dalam Markus 9:35 “... jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dengan simbol membagikan roti dan anggur kepada muridnya dalam perjamuan terakhir sebelum penyaliban, hal ini merupakan bentuk pelayanan kepada umatnya. Tema yang terpenting dalam percakapan yang dimulai setelah makan malam dalam perjamuan terakhir pun adalah tentang pelayanan dan kekuasaan (Lukas 22:24-37).

4)      Sikap Kasih Tanpa Batas
Pernyataanpernah ditanyakan oleh seorang ahli Taurat mengenai hukum yang paling utama, sebagaimana yang tertulis dalam Markus 12: 29-31. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Yesus bahwa hukum yang utama adalah: pertama, cintailah Tuhan Allah dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan seluruh akal budimu dan dengan segala kekuatanmu. Kedua, cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada yang lebih utama dari kedua hukum ini. Pada kitab lain dinyatakan pula: “Perintah dalam hukum adalah mencintai Allah dengan seluruh hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri.” (Matius 22: 37-40)

5)      Pemaaf
Saat menuju tiang salib, sebagian pengikut Yesus mengucapkan permintaan maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah penyaliban Yesus. Yesus tidak sedikitpun menunjukkan kemarahan terhadap pengikutnya, melainkan menghibur para pengikutnya dan menganjurkan mereka agar memohonn ampun bagi diri mereka sendiri kepada Tuhan.[16] Selain peristiwa itu, juga banyak lagi perkataan Yesus yang menunjukkan sifat pemaaf-Nya.

I.       Wanita-Wanita di Dalam Kehidupan Kristus

1. Maria: Ibu Dari Kristus
Maria, ibu dari Yesus adalah seorang wanita yang baik dan saleh. Tentunya, Maria telah mencontohi Hana, karena nyanyian pujiannya pada Allah (Luk 1:46-55) sangat mirip dengan nyanyian Hana (1 Sam 12:1-10).

"Tetapi setelah genap waktunya maka Allah mengutus anakNya, yang lahir dari seorang perempuan, dan takluk pada hukum Taurat" (Gal 4:4).

Benar bahwa seorang wanita, Hawa jatuh ke dalam pencobaan dosa untuk pertama kalinya, kemudian ia mencobai suaminya. Tetapi, marilah kita tidak melupakan bahwa seorang wanita juga yaitu Maria, yang merupakan bejana yang taat, melaluinya Kristus telah dikandungkan oleh Roh Kudus. Dan melalui wanita ini maka Penyelamat dunia dilahirkan. Karena itu, apabila kita menyalahkan seorang wanita, Hawa, yang menyebabkan jatuhnya manusia, marilah kita sekarang menghormati seorang wanita, yaitu Maria yang telah menjadi alat, yang melaluinya manusia menerima Juru selamat.

2. Hana, seorang nabiah
Perjanjian Baru dibuka dengan kisah yang begitu terkenal tentang kelahiran Yesus. Pada saat upacara pentahiran Maria (Im 12:1-6) seorang nabiah bernama Hana menyatakan pernyataan yang dramatis.

"Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan... Dan ia sekarang adalah seorang janda dan berumur delapan puluh empat tahun, ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa" (Luk 2:36-37).

Hana dipakai untuk memperkuat bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat yang dinanti-nantikan oleh Israel. Karena itu, seorang wanita mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kelahiran Yesus dan di dalam penyerahan-Nya. Kemudian kita akan melihat bahwa wanita juga mempunyai peran yang sangat penting sekitar penyaliban dan kebangkitan-Nya.

3. Wanita yang Diampuni: Seorang Pemberita Injil
Di dalam Alkitab, baik laki-laki maupun perempuan mengikuti Kristus. Wanita diberkati, diampuni dan disembuhkan sama seperti laki-laki. Seorang wanita yang mempunyai lima suami dan yang sedang hidup dengan laki-laki lain (yang tidak dinikahinya), telah diberkati dan diampuni dari semua dosa-dosanya. Sebagai bukti bahwa Yesus tidak pernah lagi melihat dosa-dosa dari wanita ini, pada hari dimana ia bertobat ia menjadi salah satu dari pemberita InjilNya (Yoh 4:28,29,39). Ia kemudian membawa seluruh desa itu pada Kristus.

4. Wanita yang Mendukung Yesus
Catatan yang ada mengenai dukungan finansial yang diberikan pada Yesus, hanya tertulis dalam Injil Lukas. "Dan juga beberapa orang perempuan... melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka" (Luk 8:2,3). Jelas sekali bahwa mereka mempunyai kemampuan mengelola ekonomi untuk mendukung dalam hal keuangan (suatu kemampuan yang sangat ditentang mengenai wanita pada kebudayaan bangsa-bangsa Kafir). Jika tidak, mereka tidak dapat memberikannya pada Yesus. Dalam peradaban Kristen Barat, 80 persen dari dukungan keuangan untuk pekerjaan Tuhan itu, masih datang dari para wanita.

Gereja-gereja yang sama di negara-negara Barat yang menolak peran kepemimpinan dan pelayanan wanita, lebih suka memberikan uang mereka untuk mengirim wanita sebagai missionari ke negara-negara lain dan menyuruh mereka berdiam diri di dalam gereja-gereja serta mengajar pandangan-pandangan yang tidak Alkitabiah tentang peranan wanita.

5. Wanita-wanita di dekat Salib

"Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena" (Yoh 19:25). Orang-orang terakhir di dekat salib adalah seorang wanita (Mrk 15:47). Dimanakah para prianya?

1. Murid-murid melarikan diri. "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri" (Mat 15:47).

2. Petrus mengikuti-Nya dari jauh. "Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar dan setelah itu ia masuk di dalam, duduk diantara pengawal-pengawal, untuk melihat kesudahan perkara itu" (Mat 26:58).

3. Petrus menyangkal Dia. Hal ini mengakibatkan penyangkalan dari Petrus bahwa ia mengenal Yesus (Mat 14:51,52).

4. Markus melarikan diri. Markus (penulis dari Alkitab ini) lari untuk menyelamatkan dirinya, "Ada seorang muda (Markus) yang pada waktu itu hanya mengenakan kain lenan untuk menutupi badannya mengikuti Dia; mereka hendak menangkapnya dan ia melepaskan kain dan lari dengan telanjang" (Mrk14,51,52).

Hal-hal tersebut di atas menyebabkan laki-laki menundukkan kepalanya dengan penuh malu karena kepengecutannya. Wanita-wanita pemberani mau mempertaruhkan nyawanya untuk Yesus. Para pria dengan penuh ketakutan lari untuk menyelamatkan diri mereka.

6. Para Wanita Yang Menyiarkan Kebangkitan

a) Yang pertama di kuburan. Orang yang pertama di kuburan adalah seorang wanita. (Yoh 20:1).

b) Yang pertama menyiarkan. Orang pertama yang menyatakan berita tentang kebangkitan adalah seorang wanita (Mat 28:8).

Seorang wanitalah yang pertama kali berkhotbah tentang kebangkitan. Dan ia mengkhotbahkannya pada rasul-rasul itu sendiri. Yesus menyuruhnya untuk melakukan hal itu (Yoh 20:17,19).

Hari-hari ini, wanita sering kali dilarang untuk berkhotbah dan mengajar, namun Yesus mengirim seorang wanita dengan perintah, "Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu (laki-laki), bahwa Aku telah bangkit."

Dimanakah para laki-laki pemberani itu pada pagi ketika Yesus bangkit dari kematian? Seorang wanita ada di sana! Tampaknya para pria sangat berkecil hati setelah penyaliban yang tidak diharapkan itu, dan sesuai dengan Yohanes 21:3, mereka kemudian kembali kepada jala-jala penangkap ikannya; tetapi wanita-wanita pergi kekuburan. Wanita-wanitalah yang berada di kuburan pagi ketika Kristus bangkit dari kematian.

Kristus yang bangkit itu tampak dan berbicara pertama kali pada seorang wanita. Karena itu, sangatlah janggal apabila wanita-wanita diperintahkan untuk berdiam diri pada saat ini, bahwa mereka tak boleh berkhotbah atau memberitakan Injil. Yesus mengutus seorang wanita untuk memberitakan berita pertama tentang kebangkitanNya.

Kematian-Nya dan kebangkitan-Nya mengangkat wanita itu dari keberadaannya yang terjatuh dan memulihkan dia pada tempat yang benar di dalam kerajaanNya. Dia sekarang bebas untuk berdiri di samping suaminya-sama berharga dalam memberitakan berita Perjanjian Baru dari Kristus pada seluruh isi dunia ini.

J.      Paulus dan Perempuan: Sikap Yang Ambigu

Umumnya diyakini bahwa Paulus merupakan tokoh Kristiani yang misoginis (membenci perempuan). Hal ini dibuktikan dengan statemen-statemen Paulus yang sering kali mensubordinasi dan memarjinalisasikan perempuan. Palulus mislnya, menyatakan bahwa “fungsi mengajar di gereja ditugaskan khususnya kepada kaum lelaki” (1 Timotius 2: 11-15). Paulus juga menasihatkan agar perempuan beridam diri, dan menerima pengajaran dengan patuh (1 Kor 14: 34). Ia juga secaara khusus mengajarkan seorang istri harus tunduk dan patuh kepada suaminya dan lain-lain. Pandangan misoginis Paulus berakibat pada penempatan perempuan menjadi warga kelas dua di dalam gereja, sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.

Paulus juga mengakui ajaran tentang tatanan penciptaan yang menganggap rendah kaum perempuan dan budak sebagai hukum alam. Bahkan Paulus menyamakan posisi perempuan yang rendah dengan posisi budak. Sebagaimana dituturkannya dalam Surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus (Kor 7:14-17).

Dari beragam penelitian terbaru ditemukan bahwa Paulus ternyata mempraktikan Kristen yang inklusif. Dalam surat-suratnya Paulus seringkali menyebutkan perempuan yang berperan sebagai penginjil keliling dan pemimpim setempat. Paulus mencatatat Euodia dan Sintikhe, sebagai dua perempuan yang telah berjuang bersamanya dalam penyebaran Injil (Surat Pauluskepada Jamaat di Filifi 4: 2-3). Ia juga menyebut Yulia sebagai Rasul perempuan serta berkali-kali menyatakan bahwa Priskan dan Akwil, sepanjang suami istri yang menjadi pemimpin gereja dan hamba-hamba Kristus yang setia dalm Kisah Rasul 18. Dalam teks tersebut, nama Priskila disebut lebih dahulu, kemungkinan besar mengindikasikan bahwa dalam pelayanan dia lebih “utama dan penting” dibanding dengan suaminya.

Dalam Kisah Rasul 18:26 disebutkan bahwa Priskila dan Akwila membawa Apolos ke rumah mereka dan mereka berdua memuridkan dia dan menjelaskan Firman Tuhan kepada Apolos dengan lebih akurat. Paulus juga menyebutkan Febe seorang perempuan sebagai pembantu gereja (diaken) atau pemimpin bagi masyarakatnya. Paulus juga mencatat jumlah yang hampir sama bagi perempuan (berjumlah 16 orang) dan laki-laki (berjumlah 18 orang) dalam salamnya kepada pemimpin-pemimpin gereja.

Pemaparan tersebut menegaskan bahwa Paulus masih mendua dalam konsepsinya mengenai kesetaraan gender. Sementara, ia mengakui adanya persamaan gender dalam kependetaan dan penebusan dosa, tetapi pada saat yang sama ia masih mengakui tatanan hirarkis alam yang menempatkan perempuan pada posisi rendah. Sebagaimana ditulisnya dalam surat Paulus kepda Jemaat di Korintus.

Ambiguitas itu juga nampak pada ketidakyakinannya pada hubungan antara teologi subordinasi yaitu ajaran tentang penciptaan yang menekankan Adam dasn Hawa diciptakan secara berbeda, dan teologi eskatologis yang mengakui Adam dan Hawa diciptakan sama. Pandangan Paulus yang ambigu ini berimplikasi pada pandangan Kristiani pada era berikutnya, sebagian besar teolog meyakini teologi subordinasi, sebagian kecil lainnya menganut teologi eskatologis tentang kesetaraan. Jenis Kristen yang pertama yaitu ajaran Paulus yang diteruskan oleh para pengikutnya yang disebut Kristen Kharismatik yang bersifat kenabian. Mereka melanjutkan ajaran tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam Kristus, persamaan anugrah dan persamaan panggilan untuk berdakwah dan membaptis. Belakangan, kelompok atau aliran ini memfokuskan dirinya untuk bertapa. Sebagian dari mereka mengambil garis kertas berupa memenuhi panggilan kesucian dan kesyahidan. Perempuan-perempuan yang mengikuti aliran ini pada umumnya meninggalkan perkawinan, mengabaikan kebutuhan kelurga, untuk tujuan berdakwah atau membaptis. Bahkan mereka meninggalkan status perempuan mereka dengan memakai pakaian laki-laki. Seperti yang digambarkan dalam Kisah Rasul Paulus tentang Paulus dan Tikla.

Kelompok lainnya yaitu agama Kristen Paulin yang termuat dalam Surat-surat Pastoral. Jenis Kristen ini bergerak pada sistem kependetaan yang bersifat individual seperti Rasul, nabi dan guru keoada sistem kependetaan yang terlembagakan yang terdiri dari para uskup , pastor dan pembantu gereja. Dalam kobteks ini, mereka masih melibatkan perempuan, namun pada posisi-posisi marginal, seperti membantu membaptis kaum perempuan, membawa ekaristi pada perempuan, dan perintah kateketis tentang perempuan.

Pandangan Paulus yang Ambigu juga tercermin dalam teolog dan pemikir Kristen lainnya, seperti Thomas Aquinas (1225-1274). Pandangannya semula sangat egaliter tentang laki-laki dan perempuan, misalnya, Aquiwnas menyebut Tuhan dengan nama-nama abstrak dan non-seksual, seperti Penggerak Pertama (First Mover) dan Tindakan Murni (Pure Act). Statemen tersebut tentu tidak bias laki-laki. Ia juga berpendapat bahwa perempuan sama seperti laki-laki diciptakan langsung oleh Tuhan dan berada dalam image Tuhan. Namun belakangan, pertautannya dengan karya-karya Aristoteles yang patriakhal mendorongnya cenderung menjadi bias gender. Berikut beberapa gagasan Aristoteles yang patriakhal, diantaranya manusia yang sempurna adalah dalam bentuk laki-laki, perempuan sebagai laki-laki yang diharamkan (misbegotten male).       

Pandangan Thomas Aquinas yang dianggap bias gender yaitu laki-laki dan perempuan memang diberikan jiwa yang rasional, tetapi rasionalitas perempuan diperlemah oleh tubuhnya yang lemah. Jiwa di dalam tubuh perempuan tidak dapat dijaga dan dipegang secara kokoh sehingga seringkali dipenuhi dosa. Hal ini dimungkinkan karena jiwa berkaitan dengan keadaan fisik perempuan. Kerapuhan pemikiran dan kehendak perempuan memiliki konsekuensi serius dalam sejarah manusia. Aquinas mengkaitkannya dengan penciptaan Adam dan Hawa. Mengapa makhluk yang menyerupai ular lebih dahulu menipu Hawa? Karena secara umum, perempuan memiliki kelemahan, sehingga menjadi targat yang mudah untuk ditipu. Sementara, Adam memiliki kemampuan intelektualitas, sehingga ia lebih waspada dan hanya memiliki sedikit godaan. Meskipun laki-laki juga salah, tetapi perempuan memiliki kesalahan atau dosa yang lebih besar. Kepasrahan perempuan kepada laki-laki terjadi karena inferioritas perempuan. Pandangan tersebut makin menegaskan kuatnya pengaruh Aristotelian ke dalam pemikiran Thomas Aquinas, sehingga gagasannya cenderung mendeskreditkan perempuan.[17]






BAB III
KESIMPULAN

Perjanjian Baru baik  dalam penulisan maupun pemberitaannya tidak lepas dari pengaruh budaya. Situasi sosial budaya yang berubah-ubah menghasilkan gambaran tentang status dan peranan laki-laki dan perempuan yang berubah-ubah. Pengaruh budaya patriarkhat terlihat melalui status dan peran laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang atau tidak adil gender. Status dan peran yang berubah-ubah ini bukanlah kodrat Tuhan, yang tetap dan tak berubahubah adalah seks (biologis).

Ada bagian Perjanjian Baru dalam gender yang lepas dari pengaruh budaya. Bagian ini memperlihatkan status dan peran laki-laki serta perempuan yang ideal, yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan gender. Misalnya, ada penekanan bahwa dalam perkawinan tubuh istri adalah milik suaminya dan tubuh suami adalah milik istrinya (Corintus 7:4). Begitu juga, pada surat yang dikirimkan kepada orang-orang Galasia, perempuan dan laki-laki adalah satu dalam Yesus Kristus (Woman and Man are one in Christ Jesus) (Corintus 3: 28). Bahkan, St. Paul membolehkan perempuan untuk membantunya dalam urusan kependetaan dan menjanjikannya untuk berkhutbah dan melakukan pengajaran agama (Acts 18:1-3, 24:26, Romans 16:1-2, 1 Corintians 11:5, Titus 2:3).

Adapun bagian Perjanian Baru yang memperlihatkan ketidakadilan gender sebagai pengaruh sosial budaya yang panjang, jangan ditolak, tetapi dipelajari latar belakangnya dan tujuan penulisannya sehingga dapat ditemukan pengajarannya untuk masa dulu dan kini.




[1] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm. 6-7.
[2] Mukti Ali (Ed). Agama –agama di Dunia. (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988). Hlm. 343.
[3] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. (Jakarta: Al husna Zikra, 1996). Hlm. 322.
[4] W.R.F. Browning. Kamus Alkitab. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010). Hlm. 349.
[5] Risnawaty Sinulingga. Gender Ditinjau Dari Sudut Pandang Agama Kristen. Dalam Jurnal Wawasan (Juni 2006, Volume 12, Nomor 1). Hlm. 52.
[6] Ida Rosyidah dan Hermawati. Relasi Gender Dalam Agama-agama. (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2013). Hlm. 85—86.
[7] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 85—87.
[8] Idi Subandy Ibrahim (Ed). Wanita dan Media. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998). Hlm. 19.
[9] Fauzie Ridjal (Ed). Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1993) Hlm. 8.
[10] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 76—79.
[11] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 83.
[12] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 91-97.
[13] Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. (Jakarta: Balai Pustaka, 2005). Hlm. 315.
[14] Aliyah. Dimensi Feminin dalam Paskah Agama Kristen. (Jakarta: Skripsi Program Studi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta, 2007). Hlm. 34-36.
[15] Aliyah. Op.Cit. Hlm. 15-16.
[16] Aliyah. Op.Cit. Hlm. 43-54.
[17] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 97-100.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar