RELASI
GENDER DALAM AGAMA
KRISTEN
(PERIODE PERJANJIAN BARU)
BAB I
PENDAHULUAN
Dewasa
ini status dan peran perempuan dalam masyarakat menjadi salah satu tema penting
yang sering dibahas. Dalam banyak seminar nasional perbedaan status dan peran
itu, yang terbentuk dalam proses sosial serta budaya yang panjang, dikemukakan
sebagai masalah gender, masalah dominasi patriarkhat yaitu sistem yang
dilahirkan oleh praktik-praktik sosial dan politik di mana kaum laki-laki
menguasai serta menindas perempuan. Tidak heran kalau perbedaan status dan
peran perempuan dengan laki-laki dikategorikan kepada masalah ketidakadilan
gender yang umumnya mengorbankan perempuan.
Sensitivitas
gender menuntut suatu upaya untuk mengungkap masalah gender, menyikapinya, dan
ditindaklanjuti oleh banyak pihak termasuk oleh para tokoh agama. Mengapa para
tokoh agama? Karena salah satu penyebab ketidak-adilan gender adalah tinjauan
teologis dan etis yang sarat dengan budaya yang merendahkan perempuan. Apalagi
kitab suci yang menjadi dasar tinjauan teologis dan etis itu sendiri amat
diwarnai budaya patriarkhat.
Dengan
demikian, seminar-seminar
atau tulisan dengan
pokok bahasan “gender dari sudut pandang agama” amatlah penting. Khususnya
tulisan dengan “gender dari sudut pandang agama Kristen” sangat berguna. Karena
dalam tulisan ini akan diperlihatkan perbedaan gender dan seks dalam Perjanjian
Lama secara khusus. Dengan demikian, akan terlihat dengan jelas yang manakah
status dan peran laki-laki serta perempuan yang berubah-ubah sesuai situasi dan
kondisi serta mana pula yang tidak pernah berubah karena merupakan kodrat dari
Tuhan. Terutama melalui tulisan ini akan terlihat seperti apakah kesetaraan laki-laki
dan perempuan atau diskriminasi terhadap perempuan (kalau ada tentunya). Juga
dalam tulisan ini akan dibahas proses sosial budaya yang mempengaruhi kesetaraan dan diskriminasi
tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum kita membahas lebih
jauh ke depan, ada baiknya saya paparkan terlebih dahulu beberapa penjelasan
berikut ini.
A.
Sejarah Kekristenan
Sejarah Kekristenan tidak bisa
dipisahkan dari Sejarah gereja Kristen yang membawa ajaran agama Kristen,
mengayomi penganutnya dan menjadi saksi perkembangan pekerjaan yang telah
dijalankan sepanjang dua ribu tahun, sejak abad pertama Masehi, mulai dari
tanah Israel hingga ke Eropa, Amerika, dan seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sejarah gereja sangat menarik untuk dicermati, dipengaruhi oleh tokoh-tokoh
gereja yang tidak terbilang banyaknya, dan juga menimbulkan kejadian-kejadian
yang mengubah alur sejarah dunia.
Kekristenan muncul dari wilayah
Levant (sekarang Palestina dan Israel) mulai pertengahan abad pertama
Masehi. Asalnya Kekristenan dimulai di kota Yerusalem dan mulai menyebar ke
wilayah Timur Dekat, termasuk ke Siria, Asyur, Mesopotamia, Fenisia, Asia
Minor, Yordania dan Mesir. Sekitar 15 tahun setelahnya Kekristenan mulai
memasuki Eropa Selatan dan berkembang di sana. Sementara itu juga terjadi
penyebaran di Afrika Utara serta Asia Selatan dan Eropa Timur. Pada abad ke-4
Kekristenan telah dijadikan agama negara oleh Dinasti Arsacid di Armenia pada
tahun 301, "Caucasian Iberia" (atau Republik Georgia) pada tahun 319,
Kekaisaran Aksumit di Etiopia pada tahun 325, dan Kekaisaran Romawi pada tahun
380 M.
Kekristenan menjadi umum bagi
seluruh Eropa pada Abad Pertengahan dan mengembang ke seluruh dunia
selama Masa Eksplorasi negara-negara Eropa dari zaman Renaissance sampai
menjadi agama terbesar di dunia. Sekarang terdapat lebih dari 2 miliar orang
Kristen, yaitu sepertiga jumlah manusia di dunia. Kekristenan terbagi menjadi
Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur pada Skisma Timur-Barat atau
Skisma Besar pada tahun 1054. Reformasi Protestan memecah Gereja
Katolik Roma menjadi berbagai denominasi Kristen.
B.
Sejarah Alkitab
Berpikirlah
sejenak mengenai kitab yang luar biasa yang kita sebut "Alkitab".
Tiga agama besar - Kekristenan, Yudaisme, dan Islam - menyatakan bahwa Alkitab
atau bagian-bagian dari Alkitab adalah kitab suci, dan Kekristenan menyatakan
Alkitab sebagai satu-satunya Kitab Sucinya. Orang Kristen percaya bahwa Alkitab
adalah Firman Allah untuk setiap zaman, termasuk zaman kita. Itu sebabnya kita
mempelajarinya dan berusaha untuk mengertinya dengan lebih baik dalam tiap
generasi baru. Untuk memperoleh lebih dari sekadar pengertian yang sepintas
tentang Alkitab, kita harus memperoleh gambaran yang jelas mengenai sejarah
yang tercatat di dalamnya. Kita dapat membagi sejarahnya dalam periode
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
I. Sejarah Perjanjian Lama.
II. Sejarah Intertestamental.
III. Sejarah Perjanjian Baru.
Dan, yang akan
kita bahas sekarang adalah mengenai Periode Perjanjian Baru.
- Sejarah Periode Perjanjian Baru
Sejarah
Perjanjian Lama melukis gambaran yang hidup mengenai urusan Allah dengan
manusia; namun tidak memberikan seluruh kisah rencana Allah untuk menebus
manusia dari dosa. Perjanjian Baru membawa kita kepada klimaks karya penebusan
Allah, karena memperkenalkan kita kepada Sang Mesias, Yesus Kristus, dan kepada
permulaan jemaat-Nya.
- Kehidupan Kristus.
Tulisan-tulisan
Matius, Markus, Lukas dan Yohanes bercerita mengenai pelayanan Yesus.
Penulis-penulis ini adalah saksi mata kehidupan Yesus atau mereka menuliskan
apa yang diceritakan kepada mereka oleh saksi-saksi mata, namun mereka tidak
memberikan biografi Yesus yang lengkap. Segala sesuatu yang mereka catat
benar-benar telah terjadi, tetapi mereka memusatkan perhatian pada pelayanan
Yesus dan meninggalkan kekosongan-kekosongan di tempat lain dalam kisah
kehidupan-Nya.
Orang-orang
yang menulis kitab-kitab Injil melakukan hal yang sama. Tujuan mereka ialah
menjelaskan pribadi dan pekerjaan Yesus dengan jalan mencatat apa yang
diperbuat dan dikatakan-Nya. Dan setiap penulis menyajikan pandangan yang
sedikit berbeda tentang Yesus dan perbuatan-Nya. Para penulis kitab Injil tidak
berusaha menceritakan semua kejadian dari masa anak-anak Yesus karena bukan
itulah alasan mereka untuk menulis. Mereka juga tidak mencoba memberi catatan
harian dari kehidupan Yesus. Mereka hanya menulis hal-hal yang berarti untuk
keselamatan dan kemuridan.
Setelah Yesus
lahir, orang tuanya menyerahkan Dia di Bait Suci di Yerusalem (Luk. 2:22-28).
Mereka mulai mendidik Dia untuk hidup "dikasihi oleh Allah dan
manusia" (Luk. 2:52). Raja Herodes ingin memastikan bahwa rakyatnya tidak
akan bersatu keliling raja yang masih bayi itu dan mulai memberontak, maka ia
memerintahkan tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem (Mat. 2:16).
Keluarga Yesus melarikan diri ke Mesir agar lolos dari perintah yang jahat itu.
Setelah Herodes meninggal, mereka kembali ke Palestina dan menetap di kota
Nazaret.[1]
Alkitab tidak
menceritakan apa-apa lagi tentang Yesus sampai ia berusia 12 atau 13 tahun.
Lalu, untuk mengambil peran-Nya yang layak dalam jemaat orang Yahudi, Ia harus
mengadakan kunjungan khusus ke Yerusalem dan mempersembahkan kurban di Bait
Suci. Sementara berada di Yerusalem, Yesus bercakap-cakap dengan para pemimpin
agama tentang kepercayaan Yahudi. Ia menyatakan pengertian yang luar biasa
tentang Allah yang benar, dan jawaban-Nya membuat mereka kagum. Kemudian, orang
tua-Nya pulang dan menemukan bahwa Yesus tidak ada. Mereka menemukan Dia di
Bait Suci sedang bercakap-cakap dengan para ahli Yahudi.Sekali lagi, Alkitab
berhenti berbicara tentang Yesus sampai ia memperkenalkan kita kepada
kejadian-kejadian yang mengawali pelayanan Yesus ketika ia berumur sekitar 30
tahun.
Akhir
kehidupan Yesus di bumi diawali oleh Yudas Iskariot, seorang dari kedua belas
murid Yesus, mengkhianati Dia kepada para pemimpin di Yerusalem yang memusuhi
Dia dan mereka memaku Dia pada sebuah salib untuk mati di antara
penjahat-penjahat yang kasar. Tetapi Ia bangkit dari kubur dan menampakkan diri
kepada banyak pengikut-Nya, sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya, lalu memberi
petunjuk-petunjuk akhir kepada murid-murid-Nya yang paling dekat. Sementara
mereka memperhatikan Dia naik ke surga, tampaklah seorang malaikat yang berkata
bahwa mereka akan melihat Dia kembali dengan cara yang serupa. Dengan kata
lain, orang dapat menyaksikan kedatangan-Nya kembali dalam tubuh jasmani-Nya.
- Pelayanan Para Rasul.
Sejarah
Alkitab berakhir dengan Kitab Kisah Para Rasul yang memerikan pelayanan gereja
yang mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bagaimana berita tentang
Yesus - pesan penebusan - tersebar dari Yerusalem ke Roma, pusat dunia Barat.
Kitab Kisah Para Rasul memperlihatkan perluasan gereja (a) di Yerusalem, (b)
dari Yerusalem ke Yudea, Samaria, dan daerah sekitarnya, dan (c) dari Antiokhia
ke Roma.
1) Di Yerusalem.
Pengalaman-pengalaman
yang mula-mula dari murid-murid Yesus di Yerusalem menyatakan banyak hal
mengenai gereja yang mula-mula. Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan betapa
bersungguh-sungguh orang-orang Kristen ini menyebarkan berita tentang Yesus.
Petrus
berbicara atas nama gereja pada hari Pentakosta; ia membentangkan pentingnya
Kristus sebagai Tuhan pohon keselamatan (Kis. 2:14-40). Roh Kudus memberi kuasa
kepada gereja untuk mengadakan tanda-tanda dan keajaiban yang mengukuhkan
kebenaran pesan ini (Kis. 2:43). Yang khususnya penting adalah penyembuhan
seorang pengemis oleh para rasul dekat gerbang bait suci (Kis. 3:1-10).
Peristiwa ini menimbulkan pertentangan di antara para rasul dengan para
pemimpin Yahudi.
Gereja
memelihara persekutuan yang akrab di antara anggota-anggotanya. Mereka makan
bersama-sama di rumah-rumah mereka; mereka juga beribadah bersama-sama dan
berbagi kekayaan mereka (Kis. 2:44-46; 5:32-34). Sepasang suami istri, Ananias
dan Safira, mencoba menipu jemaat; setelah menjual tanah mereka, mereka
menyatakan telah memberi seluruh hasil penjualannya kepada Tuhan, padahal
mereka hanya memberi sebagian. Karena berdusta, mereka dihukum Allah dan rebah
mati (Kis. 5:1-11).
Karena gereja
terus bertambah besar, penguasa-penguasa pemerintah mulai menganiaya orang
Kristen dengan terang-terangan. Ketika Petrus dan beberapa rasul lain
dipenjarakan, seorang malaikat melepaskan mereka, tetapi mereka disuruh
menghadap kembali pada para penguasa yang memerintah mereka untuk berhenti
berkhotbah tentang Yesus (Kis. 5:17-29). Akan tetapi, orang Kristen tidak mau
berhenti berkhotbah, meskipun para pemimpin agama Yahudi mendera mereka dan
memenjarakan mereka beberapa kali.
Gereja
bertambah dengan begitu pesat sehingga para rasul memerlukan bantuan dalam
beberapa perkara praktis dari pengurusan gereja, khususnya pelayanan mereka
kepada para janda. Mereka mengangkat tujuh orang diaken untuk melaksanakan
tugas ini. Seorang dari ketujuh diaken ini, Stefanus mulai berkhotbah di jalan.
Akhirnya, para pemimpin agama melempari dia dengan batu sampai mati (Kis.
7:54-60).
2) Dari Yerusalem Sampai ke Seluruh Yudea.
Tahap kedua
dari pertumbuhan gereja memulai penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di
Yerusalem. Hampir semua orang percaya melarikan diri dari kota (Kis. 8:1). Ke
manapun orang Kristen pergi, mereka bersaksi, dan Roh Kudus memakai kesaksian
mereka untuk memenangkan orang lain kepada Kristus (Kis. 8:3 dst). Misalnya,
seorang di antara tujuh pembantu rasul itu, yang bernama Filipus,
bercakap-cakap dengan seorang diplomat Etiopia, yang menjadi orang Kristen dan
membawa kabar baik itu ke tanah airnya (Kis. 8:26-39).
Pada saat ini,
Alkitab menceritakan pertobatan Saulus dari Tarsus. Sebelum pertobatannya
Saulus menganiaya jemaat. Ia memperoleh surat-surat dari para pemimpin Yahudi
di Yerusalem yang memberi kuasa kepadanya untuk pergi ke Damsyik untuk
memastikan bahwa orang-orang Kristen dipenjarakan dan dibunuh. Dalam perjalanan
itu, Kristus merobohkan dia dan menantang dia. Saul menyerah dan demikianlah
mulai suatu kehidupan baru. Dalam hidup baru ini ia memakai nama Romawinya,
Paulus, sebagai ganti nama Yahudinya, Saulus. Dalam keadaan buta, Allah membawa
dia ke Damsyik, di mana Allah mengutus seorang pria Kristen kepadanya. Dengan
perantaraan Ananias, penglihatan Paulus dipulihkan dan ia dipenuhi dengan Roh
Kudus. Paulus mulai memberitakan Yesus di rumah sembahyang orang Yahudi, dan
para pemimpin Yahudi menghalau dia dari Damsyik. Beberapa waktu kemudian (bdg.
Gal. 1:17-2:2) ia pergi ke Yerusalem. Di sana ia mengadakan hubungan kerja
dengan para rasul.
Kita juga
harus memperhatikan pelayanan Petrus, yang secara istimewa ditandai oleh
berbagai mukjizat. Petrus adalah pemimpin yang paling terkemuka dari para rasul
dan pelayanannya membangkitkan kembali semangat jemaat yang mula-mula. Tuhan
memakai Petrus untuk membuka pintu keselamatan kepada orang-orang bukan Yahudi.
Ketika Petrus bekerja di Yerusalem, sudah terdapat petunjuk bahwa ia membaptis
seorang warga Roma bernama Kornelius bersama keluarganya di Kaesaria, dekat
Yerusalem.[2]
Pada titik ini
catatan sejarah Alkitab dengan singkat beralih kepada perluasan Injil di antara
orang-orang bukan Yahudi di Antiokhia (Kis. 11: 19-30). Kemudian kita membaca
tentang kematian Yakobus sebagai seorang syahid di Yerusalem dan bagaimana
Petrus dibebaskan dari penjara secara ajaib (Kis. 12:1-19).
3) Dari Antiokhia ke Roma.
Bagian sisa
dari Kitab Kisah Para Rasul menggambarkan perluasan gereja melalui pelayanan
Rasul Paulus. Barnabas telah membawa Paulus ke Antiokhia (Kis. 11:19-26). Di
Antiokhia Roh Kudus memanggil Barnabas dan Paulus untuk menjadi misionaris dan
gereja menahbiskan mereka untuk tugas itu (Kis. 13:1-3). Barnabas dan Paulus di
dalam misinya tidak henti-hentinya menyatakan dan menegaskan bahwa Yesus itu
adalah Almasih (Christos), maka orang
sekitarnya memanggil mereka dengan sebutan para oengikut Kristus (Christians).[3]
Biasanya,
Paulus dan Barnabas akan mulai dengan berkhotbah di dalam rumah sembahyang
Yahudi setempat. Dengan demikian jemaat yang mula-mula terutama terdiri atas
para petobat di antara orang Yahudi dan "orang-orang yang takut akan
Allah" (orang bukan Yahudi yang beribadah bersama orang Yahudi).
Tempat
persinggahan berikutnya adalah Korintus, di mana Paulus dan kawan-kawannya
tinggal selama satu setengah tahun. Dari sana mereka kembali ke Antiokhia lewat
Yerusalem (Kis. 18:18-22). Selama ini, Paulus dan kawan-kawannya terus
berkhotbah di rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan menghadapi perlawanan dari
beberapa orang Yahudi yang menolak Injil (Kis. 18:12-17). la juga mengadakan
kunjungan singkat pada gereja-gereja di Galatia dan Frigia (Kis. 18:23).
Di Efesus ia
membaptis 12 murid Yohanes Pembaptis yang telah menerima Kristus dan mereka
menerima Roh Kudus (Kis. 19:1-6). Ia berkhotbah di sekolah Tiranus di Efesus
selama hampir 2 tahun (Kis. 19:9-10).
Di Yerusalem,
Paulus mengalami kesukaran dan dipenjarakan. Alkitab mencatat suatu pidato yang
disampaikannya untuk membela iman Kristennya (Kis. 22:1-21). Akhirnya, para
pemimpin agama berhasil mengirim dia ke Roma untuk diadili. Dalam pelayaran ke
Roma, kapal yang mengangkutnya karam di pulau Malta ("Melite"). Di
pulau itu seekor ular berbisa memagut Paulus, tetapi ia tidak terluka (Kis.
28:3-6). Kemudian Paulus menyembuhkan penyakit ayah Publius, pemimpin politik
di pulau itu (Kis. 28:7-8). Setelah tiga bulan di Malta, Paulus dan para
pengawalnya berlayar ke Roma.
Kitab Kisah
Para Rasul berakhir dengan kegiatan-kegiatan Paulus di Roma. Kita membaca bahwa
ia berkhotbah kepada orang-orang Yahudi yang terkemuka di kota itu (Kis.
28:17-20). Ia tinggal selama 2 tahun di sebuah rumah sewaan dan terus
memberitakan Injil kepada orang-orang yang mengunjunginya (Kis. 28:30-31).
Untuk mendapat uraian yang lebih rinci mengenai kehidupan Paulus, lihat
"Paulus dan Berbagai Perjalanannya."
Dengan
demikian berakhirlah sejarah penebusan di Alkitab. Injil telah ditanam dengan
efektif di tanah bukan Yahudi dan bagian terbesar dari Surat-Surat Kiriman
Perjanjian Baru telah ditulis. Gereja sedang dalam proses memisahkan diri dari
rumah ibadah Yahudi dan menjadi suatu organisasi yang nyata.
- Kitab Perjanjian Baru (PB)
Kitab
Perjanjian Baru adalah bagian dari Alkitab Kristen yang ditulis setelah
kelahiran Yesus Kristus. Kata "Perjanjian Baru" merupakan terjemahan
dari bahasa Latin, Novum Testamentum, yang merupakan terjemahan Yunani: ΗΚαινη
Διαθηκη, I Keni Diathiki. Umat Kristen awal berpendapat bahwa kitab ini
merupakan penggenapan isi nubuat yang ada di Alkitab Ibrani yang sudah ada dan
kemudian diberi nama Perjanjian Lama. Perjanjian Baru kadang-kadang disebut
sebagai Kitab Yunani Kristen karena ditulis dalam bahasa Yunani oleh para
pengikut Yesus yang belakangan dikenal sebagai orang Kristen.
Teks
asli Perjanjian Baru ditulis oleh beberapa orang penulis setelah sekitar tahun
45 M, kemungkinan besar dalam Bahasa Yunani Koine,[4] lingua franca Kekaisaran
Romawi bagian timur. Rylands Library Papyrus P52 umumnya dianggap sebagai saksi
tertua yang masih ada untuk teks Perjanjian Baru, dibuat antara tahun 117 dan
138 Masehi.
E.
Kesetaraan Perempuan dalam Perjanjian Baru
Konsep yang ideal bagi status perempuan
ini dipulihkan dalam PB melalui pekerjaan Yesus Kristus. Dalam hal mana ukuran
penentuan status seorang anggota Kerajaan Allah bukan lagi jenis kelaminnya tetapi
ketaatannya melakukan kehendak Allah (Mark. 3:31–35). Bahkan dengan jelas dikemukakan
bahwa dalam Dia tidak lagi ada perbedaan status karena perbedaan jenis kelamin
(Gal. 3: 27–28). PB lebih sering merefleksikan status yang ideal yang telah
atau seharusnya dipulihkan ketimbang PL. Ini tampak dari sikap dan pandangan
Yesus yang menjunjung tinggi perempuan (Mrk. 5: 25–34; 7: 24–30; 12: 18–27; 41–44;
Luk. 4: 23–30; 7: 11–17; 11: 27–28; 13: 10–17; 13: 34; Yoh. 4), dari persiapan
pelayanan bagi perempuan dan laki-laki yang sama (Kis. 1: 12–14; 2: 1–4, 16–18;
dan dari pelayanan perempuan sebagai mitra laki-laki (mencakup pelayanan bernubuat dan mengajar) dalam masyarakat
(Mark. 1: 29–31; 14: 3–9; 16: 1– 8; Luk.1: 26–56; 2: 36–38; 8: 1–3; 10: 38–42;
15: 8–10; Yoh. 11: 1–46; Kis. 12: 12–17; 17: 4, 12; 18: 1–4, 2–28; 21: 8;
Roma16: 1–16).
Status dan peran yang ideal
inilah yang harus diperjuangkan sebagai pola kesejajaran status perempuan dan
laki-laki bukan hanya dulu tetapi juga kini dan bukan hanya oleh perempuan
bahkan oleh semua orang beriman. Dan bagian Alkitab yang berisi status dan
peran yang tak ideal, bahkan kadang-kadang sepertinya memperlihatkan diskriminasi
terhadap perempuan, bukan ditolak tetapi dipelajari sosial budaya yang melatarbelakanginya dan tujuan penulisannya, sehingga
ditemukan apa yang mau diajarkan melaluinya kepada pembaca dulu dan kini.[5]
Ajaran tentang kesetaraan
nampak dalam konsep tentang persamaan dalam penebusan dosa dan keselamatan (redemption and salvation). Alkitab
dengan tegas mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki
kesempatan untuk penebusan (dosa) dan keselamatan. Do’a-do’a yang dipanjatkan
oleh laki-laki dan perempuan dalam agama Kristen sama-sama akan dikabulkan
Tuhan tanpa rintangan. Lebih dari itu, suami dan istri harus saling memahami,
dan laki-laki harus menunjukkan penghormatan kepeda perempuan karena perempuan
adalah makhluk yang lemah. Kelemahan fisik perempuan terjadi karena mewarisi
keagungan kehidupan. Sebagaimana kutipan berikut ini: “Likewise, husbands, live with your wives in an understanding way,
showing honor to the woman as the weaker vessel, since they are theirs with you
of the grace of life, so that your prayers may not be hindered” (1 Peter 3:7).
Persamaan dalam relasi suami
istri merupakan ajaran tentang kesetaraan gender yang kurang tersosialisasikan.
Statement terkait relasi suami istri yang seharusnya saling melengkapi, saling
mengasihi, saling berbagi, dan saling menutupi kekurangan masing-masing dapat
dilihat dalam surat St. Paul’s kepada orang-orang Korintian. Sahabat Yesus
Kristus tersebut, misalnya, menekankan bahwa dalam perkawinan tubuh istri
adalah milik suaminya dan tubuh suami adalah milik istrinya (Corintus 7:4).
Begitu juga, pada surat yang dikirimkan kepada orang-orang Galasia, perempuan dan
laki-laki adalah satu dalam Yesus Kristus (Woman
and Man are one in Christ Jesus) (Corintus 3: 28). Bahkan, St. Paul
membolehkan perempuan untuk membantunya dalam urusan kependetaan dan
menjanjikannya untuk berkhutbah dan melakukan pengajaran agama (Acts 18:1-3,
24:26, Romans 16:1-2, 1 Corintians 11:5, Titus 2:3). Kutipan-kutipan tersebut
dengan jelas menunjukkan kesukaran dan kemitraan antara suami istri yang kerap
luput dari pemahaman umat kristiani yang hidup pada masyarakat Patriatkhal.
Kewajiban suami untuk
memperlakukan istrinya dengan cara-cara yang baik dan penuh respect juga
menjadi ajaran yang tertera dalam kitab suci. Secara gamblang Al-kitab
mengajukan argumentasi mengapa laki-laki harus melakukan perempuan dengan respect, karena perempuan adalah partner
yang lemah dan merupakan hadiah dari kehidupan yang penuh keindahan (1 Petter
3:7). Jadi, kelemahan perempuan dalam konteks firman Tuhan tersebut dianggap
sebagai hadiah yang harus disyukuri karena justru membawa keindahan dan
kebaikab, bukan sebaliknya membawa kerugian dan kehinaan.[6]
Ajaran Kristen menjelaskan
bahwa kehidupan selibat, virginitas, dan hidup menjanda banyak dilakukan para
tokoh suci yang menjadi teladan mereka, seperti the Virgin Maria (Ibunda
Yesus), St John the Baptist, St Paul dan anak-anak perempuan Philip (Acts
21:8-9). Juga Anna, seorang janda yang tidak pernah meninggalkan gereja karena
memuja Tuhan Allah dengan cara terus menerus berpuasa dan sembahyang siang dan
malam (Luke 2:37).
Selain itu, perempuan dan
laki-laki memiliki persamaan dalam membantu dan melayani orang lain yang memang
membutuhkan, sesuai dengan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci. Perempuan,
sama seperti laki-laki, dipanggil untuk melayani oarang lain, menyatakan buah
Roh(Galatia 5:22-23, dan untuk memproklamirkan Injil kepada mereka yang belum
mengetahuinya (Matius 28:18-20;Kisah Rasul 1:8; 1 Petrus 3:15).
Begitu pula terkait dengan
kebolehan perempuan dalam melakukan pelayanan dalam gereja. Ini dimungkinkan
karena perempuan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki laki-laki, seperti
keramahan, kemurahan, ketelatenan baik dalam mengajar maupun ketika menolong
orang lain. Bahkan, seringkali pelayanan gereja tergantung kepada para
perempuan. Oleh karena itu, keterlibatan perempuan dalam gereja tidak hanya
dibatasi dalam berdoa di depan umum atau bernubuat (1 Korintus 11:5), tetapi
perempuan juga dapat mempraktikkan karunia-karunia Roh Kudus (1 Korintus 12).[7]
F.
Ketidaksetaraan Perempuan dalam Perjanjian Baru
Mulai dari zaman Gereja
Mula-mula hingga Abad Pertengahan, wanita masih dilihat sangat subordinat dan
tidak relevan dalam masyarakat. Budaya patriarki[8]—budaya
yang memberi privilege lebih kepada pria sebagai pemimpin—masih sangat kental,
di mana patriarki sendiri merupakan warisan dari budaya kuno baik kebudayaan
Yahudi dan kebudayaan Timur Dekat Kuno pada umumnya. Dan memang pandangan para
Bapa Gereja serta theolog ini bukannya tidak berdasar pada Alkitab, mereka
tetap menjadikan Alkitab sebagai acuan utama. Hanya saja, ketika sampai pada
pembahasan tentang wanita, ada banyak interpretasi yang yang cenderung ekstrem
dan parsial. Para Bapa Gereja dan theolog tentu akan mengklaim bahwa pandangan
mereka berasal dari apa yang Alkitab ajarkan. Permasalahannya, tidak dapat
dipungkiri bahwa pandangan mereka tetap sifatnya adalah interpretasi.
Agama Kristen dalam mempelajari
perempuan berangkat dari cerita Hawa yang dianggap sebagai ibu dari semua
manusia. Tradisi dan kepercayaan umum memandang Hawa sebagai perempuan lebih
rendah dari Adam, yang laki-laki, dalam hal fisik, moral, intelektual dan
spiritual. Ajaran ini ditegaskan oleh para nabi (agama Yahudi) dan para baoak
Gereja (agama Kristen Katolik). Asal Hawa dari rusuk Adfam merupakan
“pembenaran” status inferior dari perempuan. Dalam Surat Paulus 1 Korintus
11:7-9, status ini ditegaskan lagi, bahwa perempuan diciptakan karena laki-laki.
Beberapa perikopa dalam Kitab
Suci oleh para bapa Gereja ditafsir memojokkan perempuan. Seperti misalnya 1
Korintus 14: 34-35, di mana perempuan tidak diberi hak untuk bicara dalam
pertemuan jemaat. Apabila perikopa ini ditafsir secara tekstual saja, maka
mitos bahwa perempuan bicara dalam pertemuan jemaat tidak sopan, akan terus
hidup. Hal ini ditegskan lagi dalam 1 Timotius 2: 8-15.
Bersumber dari materi yang
tertulis dalam Kitab Suci dibuat ajaran, dan peraturan untuk ibadah. Kekuasaan
mulai ditentukan, seperti dalam Gereja Katolik yang berkuasa adalah laki-laki.
Perempuan tidak boleh menjadi imam dan pemimpin upacata/ibadah. Gereja Katolik
struktur patriarkinya sangat kuat. Hirarki dikuasai oleh laki-laki. Perempuan
dilibatkan dalam pelayanan, tetapi hampir tidak pernah dilibatkan dalam
mengambil keputusan. Pekerjaan perempuan cenderung selalu melayani laki-laki
walaupun Kitab Suci mengatakan bahwa Gereja adalah tubuh Kristus (efesus 4:16),
namun yang dianggap tubuh hanya laki-laki saja. Pengangkatan Maria sebagai Ibu
Gereja belum berhasil mengubah struktur Gereja Katolik.
Akhirnya, perlu perenungan yang
mendalam, bahwa banyak mitos yang diciptakan oleh agama, baik melalui ajaran
maupun praktik kehidupan sehari-hari yang menempatkan perempuan dan laki-laki
tidak manusiawi lagi.[9]
Dalam Alkitab disebutkan bahwa:
“Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah
laki-laki dan kepada dari Kristus ialah Allah sebab laki-laki tidak berasal
dari perempuan, tapi perempuan berasal dari laki-laki.” (1 Kor 11:3, 8).
Mayoritas Teolog Kristen menyatakan tatanan sosial laki-laki (patriarkhis)
dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam. Dengan kata lain, mereka
meyakini bahwa kepemimpinan laki-laki sifat yang melekat secara natural dan
dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu, menempatkan perempuan sebagai kelas dua
merupakan keharusan dan beragam upaya untuk menempatkan perempuan setara dengan
laki-laki dianggap sebagai perbuatanyang melanggar ketentuan Tuhan. Bila ini
terus dilakukan, maka akan menimbulkan kekacauan moral dan sosial.
Cara pandang seperti ini
menafikan kebebasan perempuan untuk memilih, dan untuk bersikap mandiri.
Tragisnya, seorang istri tidak dibeanrkan untuk memberontak atau hidup
sendirian, meskipun suaminya seorang pelaku kekerasan, penjudi, pemabuk,
pendosa dan suka bersikap lalim.
Superioritas kaum laki-laki
seperti ini didasarkan pada teks-teks agama yang nampaknya bias gender, sebagaimana
diungkapkan dalam Alkitab “Hai Istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada
Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala
Jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana Jemaat tunduk
kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu”
(Efresus 5: 22-24).
Kekuasaan laki-laki yang begitu
dominan seperti ini pada akhirnya berimplikasi pada larangan perempuan untuk
berbicara di depan publik. Seprti kutipan berikut ini: “Sama seperti dalam
semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan yang berdiam diri dalam
pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara.
Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat”
(1 Kor 14 ayat 34). Mayoritas umat Kristiani di Indonesia khususnya umat
Katolik, hingga sekarang ini masih secara kuat mendukung pandangan tersebut.
Larangan perempuan berbicara di
ruang publik berimplikasi sangat serius pada larangan perempuan menjadi pendeta
seperti tertera dalam kitab Injil yaitu: “Seharusnyalah perempuan berdiam diri
dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan
juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1
Timotius 2: 11-12).
Argumen yang biasanya digunakan
untuk pelarangan tersebut adalah karena Adam lebih dahulu diciptakan, kemudian
barulah Hawa. Dengan begitu, Adam lebih tinggi nilainya daripada Hawa. Alasan
lainnya nampak sangat stereotifikal seperti perempuan itu lemah, kurang percaya
diri, emosional, mudah tergoda dan lain-lain. Kejatuhan Adam dari Surga
diyakini karena tergoda bujukan Hawa. Bible menyatakan “Perempuan (Hawa) yang
tergoda Iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan dan menyebabkan laki-laki
(Adam) ikit memakan buah tersebut dan melanggar larangan Tuhan” (Ulangan pasal
3 ayat 6, lihat juga 1 Tim 2: 13). Karena itulah, Alkitab selalu menyalahkan
perempuan atas dosa yang dilakukan Adam. Dan yang menarik, meski Adam juga
memakan buah larangan tapi hanya Hawa yang dinyatakan berlumuran dosa,
sementara Adam tidak. Alkitab menjelaskan, “lagi pula bukan Adam yang tergoda,
melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (1 Timotius
pasal 2 ayat 11-14).
Kalangan Feminis beranggapan
bahwa pandangan tersebut bisa dikritisi karena sebenarnya 1 Timotius pasal 2
ayat 11-14 sama sekali tidak menyinggung latar belakang pendidikan. Kalau
kualifikasi pendidikan menjadi syarat untuk pelayanan, maka bagaimana dengan
mayoritas murid laki-laki Yesus yang juga berpendidikan rendah. Sangat mungkin
mereka tidak akan memenuhi syarat tersebut, namun nyatanya mereka menjadi
pengkhotbah sepeninggal Yesus. Alasan lainnya yang dikemukakan para Feminis
bahwa Paulus memang membatasi perempuan, namun itu hanya ditunjukkan kepada perempuan-perempuan
Efesus dari pelayanan (1 Timotius ditulis kepada Timotius yang adalah pendeta
dari gereja Efesus). Larangan tersebut seharuanya dikaitkan dengan konteks
sosial historis. Kota Efesus saat itu terkenal dengan Kuil Artemis, seorang
dewi Roma atau Yunani. Dengan demikian, perempuan sebenarnya sudah mampu
menjadi pemegang kekuasaan. Namun demikian, kitab 1 Timotius sama sekali tidak
menyinggung tentang persoalan tersebut. Paulus juga tidak menyinggung
penyembahan pada Artemis sebagai dalih dari larangan dalam 1 Timotius pasal 2
ayat 11-12.[10]
Ajaran Kristen yang merendahkan
perempuan juga nampak pada anggapan perempuan sebagai najis. Agak mirip dalam
tradisi Hindu, Alkitab juga beranggapan bahwa seorang perempuan yang mengalami
menstruasi dianggap najis dan apapun yang disentuhnya telah terkena najis
(Efesus 5: 19-27). Implikasinya adalah perempuan harus mengasingkan diri. Dan
tidak cukup sampai di situ, menstruasi dipandang sebagai dosa sehingga
perempuan yang mengalaminya harus melaksanakan upacara korban penghapusan dosa
(Efesus pasal 5 ayat 28-30) selain itu, ajaran Kristen lainnya yang menganding
bias gender adalah konsep bahwa perempuan sebagai hak milik laki-laki yang bisa
dialihkan kepada siapa saja. Karena itu, seorang istri yang ditinggalkan mati
suaminya harus kawin dengan saudara laki-laki suaminya (Ulangan 25: 5). Selain
itu, perempuan juga dianggap sebagai rampasan perang (Ulangan 20: 14, Ulangan
pasal 31 ayat 9, II Twarikh 28: 8, Hakim-hakim 21: 14).[11]
G.
Status dan Peran Perempuan dalam
Perjanjian Baru
Partisipasi perempuan dalam
bidang keagamaann dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Maria Magdalena adalah
satu-satunya perempuan yang disebutkan di keempat Injil, selain sang Perawan
maria. Ia muncul pertama kalinya selama pelayanan Yesus di Galilea. Dia juga
orang pertama yang menjadi saksi dari kebangkitan Yesus dari kuburnya
sebagaimana diakui oleh keempat Injil. Namun, sebagian Feminis Kristiani
menyebutkan bahwa Gereja selama ini tidak berlaku adil padanya karena perannya
sebagai orang terdekat Yesus dimarjinalisasikan.
Ada daerah yang khusus dikenal
di dalam Rumah Allah dengan nama "Halaman Wanita", karena
wanita-wanita tidak diperkenankan masuk ke dalam halaman Bait Allah.
Dari sumber-sumber yang khusus,
diceritakan pada kita bahwa wanita-wanita tidak diperkenankan untuk membaca
atau berbicara di dalam Bait Allah, tetapi mereka dapat duduk dan mendengarkan
di tempat yang dikhususkan untuk wanita. Hanya dalam rumah-rumah ibadah yang
menjalankan dasar-dasar Hellenistik para wanita diizinkan untuk masuk.
Bait Allah orang Yahudi pada
zaman Tuhan Yesus, menekankan tata cara tentang laki-laki dan perempuan secara
jelas di dalam kegiatan-kegiatan agama mereka. Ada enam halaman dan
ruangan-ruangan yang terpisah:
1) Di paling luar adalah halaman orang asing dan
orang kafir;
2) Halaman berikutnya tidak boleh dimasuki oleh
orang kafir, hukuman bagi pelanggar adalah kematian. Ini terdiri dari dua
bagian:
3) Halaman yang khusus dipakai oleh wanita dan
halaman orang Israel yang khusus dipakai oleh orang laki-laki Yahudi;
4) Pelataran (halaman), yang menuju ke Ruangan Suci.
Yang diperbolehkan masuk adalah para imam saja.
5) Ruang Suci; dan
6) Ruang Maha Suci
Namun, gambaran yang berbeda
dibukakan oleh pelayanan dari Yesus. Lukas 8:1-3 menunjukkan bahwa Yesus mengijinkan
beberapa wanita untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia memberi semangat pada
Martha dan Maria untuk duduk pada kaki-Nya sebagai murid-murid-Nya (Luk
10:38-42). Penghargaan Yesus pada wanita adalah sesuatu yang baru dan sangat
menyolok, dan sangat berbeda dari perlakuan orang-orang Farisi dan Saduki.
Di dalam pekerjaan keselamatan
dari Kristus, semua dinding-dinding pemisah itu dipatahkan; dan setiap orang
beriman, tidak memandang suku, jenis kelamin atau hal-hal yang lain, mempunyai
akses yang sama di hadapan Tuhan. "Karena Dialah damai sejahtera kita,
yang telah mempersatukan kedua pihak (Yahudi dan bangsa Kafir), dan yang telah
merobohkan tembok pemisah yaitu persekutuan" (Ef 2:14).
Zaman kemurahan Kristen yang
baru telah mengantar ke era yang baru. Di dalam Kristus, semua pemisah itu
telah dihapuskan antara Yahudi dan bangsa-bangsa Kafir, antara laki-laki dan
wanita dan antara imam-imam dan orang biasa (Why 1:16).
"Karena kamu semua, yang
dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang
Yahudi dan orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada
laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus
Kristus" (Gal 3: 27,28).
H.
Yesus Kristus dan Transformasi
Sosial Kehidupan Perempuan
Selama ratusan tahun masyarakat
Yahudi selalu menindas perempuan. Perempuan seringkali diperlakukan secara
tidak manusiawi. Banyak hak-hak perempuan yang terampas, termasuk hak untuk
memperoleh pendidikan, ekonomi dan lain-lain. Di tengah kehidupan perempuan yang
terpuruk, Yesus Kristus hadir dan melakukan beragam transformasi sosial pada
kehidupan perempuan.
Yesus Kristus, misalnya,
melakukan tindakan-tindakan progresif dan bahkan revolusioner dalam mengangkat
martabat perempuan. Ketika masyarakat pada umumnya memarginalisasikan dan
menindas hak perempuan, Yesus justru sebaliknya memperkenalkan ajaran-ajaran
yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku saat itu. Strategi
reformis Yesus Kristus dengan cara memperkenalkan gagasan dan norma-norma baru
dan membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang mensubordinasikan perempuan,
merupakan prilaku yang perlu diteladani oleh umat Kristiani. Pembebasan
berbasis agama terhadap perempuan sudah seharusnya dilakukan.
Kisah-kisah berikut ini
merupakan bukti transformasi sosial yang dilakukan Yesus dalam meningkatkan
kualitas kehidupan perempuan. Misalnya, Yesus Kristus mengajarkan bagaimana
seorang laki-laki harus menghargai perempuan. Umat Kristiani meyakini bahwa
Yesus merupakan sosok yang sangat menghargai perempuan. Selama masa hidupnya,
Yesus memperlakukan perempuan dengan santun. Ketika mengajar murid-murid
perempuan, ia tidak pernah mengajarkan kata-kata yang menghina atau merendahkan
martabat perempuan. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan Yesus Kristus terhadap
perempuan Samaria di sebuah sumur di desa Sikhar, daerah Samaria (Yohanes
4:1-42). Sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan praktik sosial yang
berlaku bagi lelaki Yahudi pada saat itu. Apalagi Yesus kemudian mengajarkan
perempuan tersebut dan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Para sahabat Yesus
sangat terkejut dengan tindakan guru mereka, sebagaimana dicatat dalam Yohanes
4:27, “Pada waktu itu, datanglah
murid-muridNya dan mereka heran bahwa ia sedang bercakap-cakap dengan seorang
perempuan.” Fenomena yang berkembang saat itu adalah prilaku Yesus
berbanding terbalik dengan nilai-nilai yang diajarkan para Rabbi Yahudi yang
justru melarang para lelaki berbicara dengan perempuan di depan umum. Tugas profetik
semacam ini seharusnya menginspirasi umat Kristiani untuk mengubah cara pandang
dan prilaku mereka terhadap perempuan.
Sikap revolusioner Yesus
Kristus juga nampak dalam perlakuannya terhadap seorang perempuan yang
berprofesi sebagai pelacur, yang “tertangkap basah” sedang melakukan perzinahan
(Yohanes 7:53—8:11). Yesus sama sekali tidak menghakimi dan menyudutkan
perempuan tersebut sebagai pendosa dan berprilaku amoral. Ia sebaliknya
berusaha menyadarkan masyrakat Yahudi bahwa dosa dan kesalahn tidak hanya
ditimpakan kepada perempuan pekerja seksual tersebut, tetapi pada seluruh
laki-laki hidung belang yang telah memanfaatkan tubuhnya. Dengan nada keras, ia
menyatakan, “Barang siapa di antara kamu
yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan
itu.” (Yohanes: 7). Namun, tak ada satu pun di antara laki-laki tersebut
yang berani melemparkan batu ke arah perempuan tersebut. Artinya, tak ada satu
pun laki-laki yang tak merasa berdosa. Menyadari hal tersebut, mereka satu per
satu pulang ke rumah masing-masing. Sebaliknya, dengan nada lembut Yesus
berkata kepada sang pelacur, “Pergilah
dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Ini merupakan contoh
kongkrit bagaimana Yesus menerapkan keadilan gender pada masyarakatnya. Suatu
bentuk keadilan yang sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi masyarakat Yahudi.
Yesus juga mengajarkan
bagaimana seorang laki-laki harus memperlakukan istrinya. Konsep suami harus
menyayangi istrinya dan memperlakukan istrinya secara baik juga sebenarnya
diajarkan oleh Yesus Kristus. Beragam Injil menyatakan sikap Yesus yang
mengutuk perselingkuhan dan perceraian (Matius 5:27-28 dan 19:3-1) karena
perceraian suami istri dianggap-Nya sebagai bentuk dari arogansi laki-laki Bani
Israel. Bila dilihat dalam konteks sosio-historisnya, saat itu banyak laki-laku
yang menceraikan istrinya karena alasan yang sangat sepele, seperti menyajikan
makanan yang basi, berbicara keras-keras sampai didengar tetangganya, atau
suami jatuh cinta pada perempuan yang lebih cantik dari istrinya.
Selain melalui contoh-contoh
dan teladan yang baik terkait penghargaan terhadap perempuan, Yesus juga
menggunakan media khutbah untuk mendorong transformasi sosial di masyarakat
Israel. Yesus pernah dua kali menggunakan perempuan sebagai perumpamaan dalam
khutbah yang disampaikannya. Pertama, ketika ia ingin menceritakan kedermawanan
seorang janda Sarfat, untuk mengkritik para lelaki di kota Nazaret yang
terkenal pelit (Lukas 4:25-26). Kedua, ia menceritakan Ratu Sheba yang datang
dari Selatan (Arabia) untuk mendengarkan hikmat nabi Sulaeman dan kemudian
meyakininya. Tamsil Ratu Sheba sengaja dipaparkan untuk mengkritik para ulama
Yahudi dari mazhab Farisi yang meskipun belajar Torah tetapi tidak mengerti dan
tidak percaya kepada Hikmat Ilahi (Lukas 11-31). Ketiga, Yesus juga menggunakan
figur seorang perempuan yang patut diteladani terkait keimanan dan kegigihannya
untuk membela perkaranya terhadap
seorang hakim yang tidak adil (Lukas 18:1-2) dan perempuan yang mencari mata
uang yang hilang (Lukas 15:8-10). Sikap Yesus Kristus yang rendah hati,
menghormati dan menghargai perempuan, mendukung aktivitas perempuan serta
meningkatkan martabat perempuan, seharusnya diteladani dan dipraktikkan oleh
para pengkhotbah modern zaman ini. Sebaliknya, sampai saat ini masih ada
perempuan yang acapkali dijadikan objek olok-olok di gereja, suatu sikap yang
tidak pernah diajarkan oleh Yesus Kristus.
Perubahan yang paling
revolusioner adalah upaya Yesus untuk meningkatkan pengetahuan perempuan
dibuktikan dengan transfer pengetahuan keagamaan yang dilakukannya di rumah
Maria adan Martha (Lukas 10:38-42), sebuah tindakan revolusioner karena saat
itu perempuan dianggap memiliki intelektual yang rendah sehingga tidak akan
mampu menangkap dan memahami pesan-pesan agama. Yesus pun menuturkan ada
perbedaan yang signifikan antara Maria dan Martha, sementara Maria dengan penuh
antusiasme mendengarkan pengajaran yang diberikan Yesus, Martha justru lebih
senang memasak di dapur.
Dalam konteks ini dapat diambil
kesimpulan bahwa Yesus tidak mendikotomikan peran publik dan peran domestik
sebagaimana dipahami masyarakat patriakhal. Pandangan dikotomis akan
berimplikasi pada kurangnya penghargaan tugas-tugas yang satu melecehkan yang
lain. Akibatnya, tugas perempuan di ranah domestik dipandang rendah dan tak
bernilai karena tidak menghasilkan uang, sementara tugas laki-laki untuk
mencari nafkah dinggap jauh lebih bernilai karena menghasilkan uang, padahal
adanya perbedaan tugas dan tanggung jawab tidak perlu untuk dipertentangkan.
Prilaku Yesus yang sangat
menghargai perempuan berimplikasi kepada kesetiaan beberapa perempuan
terhadap-Nya. Bentuk kesetiaan perempuan yang paling mengagumkan dan dicatat
oleh keempat Injil yaitu ketika kehadiran murid-murid perempuan yang setia pada
saat penyaliban Yesus Kristus. Perempuan pemberani dan tegar yang tetap
bersamanya ketika Yesus berada di tiang Salib, sementara semua murid laki-laki
Yesus--kecuali Yohanes—melarikan diri ketakutan. Hal ini menunjukkan seorang
perempuan memiliki kesetiaan yang seringkali lebih bisa diandalkan daripada
para lelaki yang nampaknya berkobar-kobar ingin mengabdi kepada Tuhan, namun
realitasnya tak berani menanggung risiko dari tindakan yang dipilih.
Murid-murid perempuan ini pula yang tetap bersamanya pada saat kebangkitan
Yesus dari kuburnya untuk membawa kabar baik pada murid-murid laki-laki yang
saat itu bersembunyi.
Yesus juga memilih seorang
perempuan, Maria Magdalena untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan-Nya,
padahal, saat itu kesaksian dari perempuan di kalangan masyarakat Yahudi
dianggap tidak berarti. Realitas ini tercermin pada reaksi orang-orang Yahudi
ketika mendengar kesaksian kaum perempuan itu, “Dan kata-kata mereka ampak bagi mereka hanya sebagai cerita-cerita
bohong belaka, dan mereka tidak percaya kepeda mereka.” (Lukas 24:11).
Karena penghargaan Yesus yang
sangat tinggi kepada perempuan, popularitas Yesus sangat jauh lebih tinggi
dibandingkan para Rabbi Yahudi saat itu. Daya tarik rohani ini menjadi magnet
bagi perempuan Yahudi untuk menjadi penganut setia Kristiani. Injil Lukas 8:1-3
mencatat bahwa banyak perempuan yang mengikuti-Nya dan melayani
keperluan-keperluan dalam mengemban tugas mesisnis-Nya. Tidak bisa dibayangkan
bagaimana peranan perempuan pada masanya, bila Yesus Kristus tidak pernah
melakukan reformasi yang cukup revolusioner di kalangan gereja reformasi
kesetaraan dan keadilan gender. Sayangnya, perjuangan Yesus untuk meningkatkan
harkat perempuan telah diabaikan oleh para sahabat dan penganut-Nya yang
mengaku setia.
Seluruh pemaparan tentang
kisah-kisah Yesus tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya misi Yesus adalah untuk
membalikkan keyakinan masyarakat saat itu yang semula mengagungkan kelompok
elit kepada upaya keberpihakan pada masyarakat marginal. Berlawanan dengan
pandangan tradisional tentang dukungan Tuhan kepada kaum saleh tingkat atas,
misi Yesus ditujukan kepada mereka yang tidak termasuk khusus ini, yaitu kaum
miskin, orang-orang yang tidak suci secara ritual, orang-orang yang terbuang
secara sosial dan anggota masyarakat lainnya.
Dengan kata lain, pesan-pesan
moral Yesus Kristus sebenarnya mengandung teologi pembebasan bagi kelompok yang
terbuang. Itulah sebabnya kalangan feminis Kristen menyebutkan bahwa sebenarnya
Injil memuat pandangan-pandangan yang bernuansa feminis. Keyakinan kalangan
feminis diperkuat lagi oleh statemen Bibel yang radikal tentang misi Yesus
dalam membawa kabar baik yaitu “Menurunkan
orang-orang yang kuat dari singgasananya dan mengangkat orang-orang yang
rendah.” (Lukas 1:52).[12]
Dimensi Feminin Yesus dalam Paskah
Kata feminin sebagai kata yang
disadur dan diadopsi dari bahasa Inggris; feminine
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “feminin” berarti mengenai kewanitaan,
bersifat kewanitaan.[13] Dan
kata feminin selalu berdampingan dengan kata maskulin.
Dalam kata pengantar buku Prof.
Sachiko Murata yang berjudul The Tao of
islam, Ratna Megawangi menulis bahwa dimensi feminin lebih condong kepada
segala yang berkuaitas pasif dan sifat-sifat keindahan, seperti cinta,
kepedulian, sikap kelembutan, sikap mengasuh dan memelihara, dan lain sebagainya.
Bukan hanya itu, dimensi feminin juga memiliki cakupan luas yang dapat
dimasukan ke dalamnya, seperti berkorban diri, sikap melayani, kepekaan
intuitif, kasih tanpa batas, kedekatan emosional, dan pemaaf, yang semua ini
terkandung dalam peristiwa Paskah, yang akan kita kaji. Sedangkan dimensi
maskulin diartikan sebagai kualitas yang lebih bersifat aktif dan sifay
keagungan, seperti kesombongan, keangkuhan, dominasi, kuasa, independen,
keberanian, sikap memberi, dan lain-lain.[14]
Kata paskah berasal dari bahasa
Kadim yang kemudian diadopsi ke bahasa Ibrani yakni pesakh. Kata tersebut diambil dari peristiwa pembebasan perbudakan
di Mesir, yakni ketika anak-anak sulung di kita Mesir meninggal akibat hukuman
yang dijatuhkan kepada mereka. Sementara, ketika kejadian itu, rumah-rumah
orang Israel dilewati, sehingga anak-anak sulung mereka selamat.
Paskah merupakan sumber Iman
Krsitiani dan menjadi titik tolek seluruh refleksi umat Kristen mengenai Yesus,
karena pada Paskah lah puncak ajaran Yesus kepada umatnya. Dan setelah Yesus
dieksekusi, banyak kalangan yang meyakini bahwa sebenarnya Yesus masih hidup,
tetap berarti, bermakna dan relevan bagi manusia.[15]
Karena Penyaliban Yesus dianggap sebagai pembebas manusia dari belenggu dosa
sebagaimana Musa yang membebaskan Bani Israel dari ketertindasan, maka Kristen
pun mengambil kembali kata “paskah” untuk mengenang peristiwa ini.
Ada beberapa dimensi feminin
yang ingin penulis uraikan dalam pembahasan ini, yaitu pengorbanan diri, Tuhan
yang dekat, sikap melayani, dan sikap kasih tanpa batas. Dimensi-dimensi
feminin ini sangat ngata dalam peristiwa Paskah, namun seringkali dilupakan,
bahkan oleh umat Kristiani sendiri.
1) Pengorbanan diri
Seperti dikatakan Yesus:
“Setiap orang yang mau mengikuti aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikuti aku” (Markus 8:34). Pilihan Yesus menempuh sengsara dan
mati di tiang gantungan merupakan salah satu dari jalan feminin.
Penderitaan Yesus ini terjadi
semata-mata karena kasih-Nya, bukan karena paksaan, namun dijelaskan bahwa
penderitaan itu merupakan pilihannya sendiri.
2) Kedekatan
Yesus sebagai gambaran dari
Allah, telah tinggal bersama umat manusia. Kedekatan dengan hidup bersama
umatnya, dan kisah perjamuan dengan makan dan minum bersama membawa bukti keramahannya
kepada umatnya.
3) Sikap Melayani
Dalam Markus 9:35 “... jika
seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari
semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dengan simbol membagikan roti dan anggur
kepada muridnya dalam perjamuan terakhir sebelum penyaliban, hal ini merupakan
bentuk pelayanan kepada umatnya. Tema yang terpenting dalam percakapan yang
dimulai setelah makan malam dalam perjamuan terakhir pun adalah tentang
pelayanan dan kekuasaan (Lukas 22:24-37).
4) Sikap Kasih Tanpa Batas
Pernyataanpernah ditanyakan
oleh seorang ahli Taurat mengenai hukum yang paling utama, sebagaimana yang
tertulis dalam Markus 12: 29-31. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Yesus bahwa
hukum yang utama adalah: pertama, cintailah Tuhan Allah dengan sepenuh hatimu,
dengan segenap jiwamu, dengan seluruh akal budimu dan dengan segala kekuatanmu.
Kedua, cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada yang lebih
utama dari kedua hukum ini. Pada kitab lain dinyatakan pula: “Perintah dalam
hukum adalah mencintai Allah dengan seluruh hati dan mencintai sesama seperti
diri sendiri.” (Matius 22: 37-40)
5) Pemaaf
Saat menuju tiang salib,
sebagian pengikut Yesus mengucapkan permintaan maaf karena tidak bisa berbuat
apa-apa untuk mencegah penyaliban Yesus. Yesus tidak sedikitpun menunjukkan
kemarahan terhadap pengikutnya, melainkan menghibur para pengikutnya dan
menganjurkan mereka agar memohonn ampun bagi diri mereka sendiri kepada Tuhan.[16]
Selain peristiwa itu, juga banyak lagi perkataan Yesus yang menunjukkan sifat
pemaaf-Nya.
I.
Wanita-Wanita di Dalam
Kehidupan Kristus
1. Maria: Ibu Dari Kristus
Maria, ibu dari Yesus adalah
seorang wanita yang baik dan saleh. Tentunya, Maria telah mencontohi Hana,
karena nyanyian pujiannya pada Allah (Luk 1:46-55) sangat mirip dengan nyanyian
Hana (1 Sam 12:1-10).
"Tetapi setelah genap
waktunya maka Allah mengutus anakNya, yang lahir dari seorang perempuan, dan
takluk pada hukum Taurat" (Gal 4:4).
Benar bahwa seorang wanita,
Hawa jatuh ke dalam pencobaan dosa untuk pertama kalinya, kemudian ia mencobai
suaminya. Tetapi, marilah kita tidak melupakan bahwa seorang wanita juga yaitu
Maria, yang merupakan bejana yang taat, melaluinya Kristus telah dikandungkan
oleh Roh Kudus. Dan melalui wanita ini maka Penyelamat dunia dilahirkan. Karena
itu, apabila kita menyalahkan seorang wanita, Hawa, yang menyebabkan jatuhnya
manusia, marilah kita sekarang menghormati seorang wanita, yaitu Maria yang
telah menjadi alat, yang melaluinya manusia menerima Juru selamat.
2. Hana, seorang nabiah
Perjanjian Baru dibuka dengan
kisah yang begitu terkenal tentang kelahiran Yesus. Pada saat upacara
pentahiran Maria (Im 12:1-6) seorang nabiah bernama Hana menyatakan pernyataan
yang dramatis.
"Lagipula di situ ada
Hana, seorang nabi perempuan... Dan ia sekarang adalah seorang janda dan
berumur delapan puluh empat tahun, ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan
siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa" (Luk 2:36-37).
Hana dipakai untuk memperkuat
bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat yang dinanti-nantikan oleh Israel. Karena
itu, seorang wanita mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kelahiran
Yesus dan di dalam penyerahan-Nya. Kemudian kita akan melihat bahwa wanita juga
mempunyai peran yang sangat penting sekitar penyaliban dan kebangkitan-Nya.
3. Wanita yang Diampuni:
Seorang Pemberita Injil
Di dalam Alkitab, baik
laki-laki maupun perempuan mengikuti Kristus. Wanita diberkati, diampuni dan
disembuhkan sama seperti laki-laki. Seorang wanita yang mempunyai lima suami
dan yang sedang hidup dengan laki-laki lain (yang tidak dinikahinya), telah
diberkati dan diampuni dari semua dosa-dosanya. Sebagai bukti bahwa Yesus tidak
pernah lagi melihat dosa-dosa dari wanita ini, pada hari dimana ia bertobat ia
menjadi salah satu dari pemberita InjilNya (Yoh 4:28,29,39). Ia kemudian
membawa seluruh desa itu pada Kristus.
4. Wanita yang Mendukung Yesus
Catatan yang ada mengenai
dukungan finansial yang diberikan pada Yesus, hanya tertulis dalam Injil Lukas.
"Dan juga beberapa orang perempuan... melayani rombongan itu dengan
kekayaan mereka" (Luk 8:2,3). Jelas sekali bahwa mereka mempunyai
kemampuan mengelola ekonomi untuk mendukung dalam hal keuangan (suatu kemampuan
yang sangat ditentang mengenai wanita pada kebudayaan bangsa-bangsa Kafir).
Jika tidak, mereka tidak dapat memberikannya pada Yesus. Dalam peradaban
Kristen Barat, 80 persen dari dukungan keuangan untuk pekerjaan Tuhan itu,
masih datang dari para wanita.
Gereja-gereja yang sama di
negara-negara Barat yang menolak peran kepemimpinan dan pelayanan wanita, lebih
suka memberikan uang mereka untuk mengirim wanita sebagai missionari ke
negara-negara lain dan menyuruh mereka berdiam diri di dalam gereja-gereja
serta mengajar pandangan-pandangan yang tidak Alkitabiah tentang peranan
wanita.
5. Wanita-wanita di dekat Salib
"Dan dekat salib Yesus
berdiri ibu-Nya, dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria
Magdalena" (Yoh 19:25). Orang-orang terakhir di dekat salib adalah seorang
wanita (Mrk 15:47). Dimanakah para prianya?
1. Murid-murid melarikan diri.
"Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri" (Mat
15:47).
2. Petrus mengikuti-Nya dari
jauh. "Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar dan
setelah itu ia masuk di dalam, duduk diantara pengawal-pengawal, untuk melihat
kesudahan perkara itu" (Mat 26:58).
3. Petrus menyangkal Dia. Hal
ini mengakibatkan penyangkalan dari Petrus bahwa ia mengenal Yesus (Mat
14:51,52).
4. Markus melarikan diri.
Markus (penulis dari Alkitab ini) lari untuk menyelamatkan dirinya, "Ada
seorang muda (Markus) yang pada waktu itu hanya mengenakan kain lenan untuk
menutupi badannya mengikuti Dia; mereka hendak menangkapnya dan ia melepaskan
kain dan lari dengan telanjang" (Mrk14,51,52).
Hal-hal tersebut di atas
menyebabkan laki-laki menundukkan kepalanya dengan penuh malu karena
kepengecutannya. Wanita-wanita pemberani mau mempertaruhkan nyawanya untuk
Yesus. Para pria dengan penuh ketakutan lari untuk menyelamatkan diri mereka.
6. Para Wanita Yang Menyiarkan
Kebangkitan
a) Yang pertama di kuburan.
Orang yang pertama di kuburan adalah seorang wanita. (Yoh 20:1).
b) Yang pertama menyiarkan.
Orang pertama yang menyatakan berita tentang kebangkitan adalah seorang wanita
(Mat 28:8).
Seorang wanitalah yang pertama
kali berkhotbah tentang kebangkitan. Dan ia mengkhotbahkannya pada rasul-rasul
itu sendiri. Yesus menyuruhnya untuk melakukan hal itu (Yoh 20:17,19).
Hari-hari ini, wanita sering
kali dilarang untuk berkhotbah dan mengajar, namun Yesus mengirim seorang
wanita dengan perintah, "Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu
(laki-laki), bahwa Aku telah bangkit."
Dimanakah para laki-laki
pemberani itu pada pagi ketika Yesus bangkit dari kematian? Seorang wanita ada
di sana! Tampaknya para pria sangat berkecil hati setelah penyaliban yang tidak
diharapkan itu, dan sesuai dengan Yohanes 21:3, mereka kemudian kembali kepada
jala-jala penangkap ikannya; tetapi wanita-wanita pergi kekuburan.
Wanita-wanitalah yang berada di kuburan pagi ketika Kristus bangkit dari
kematian.
Kristus yang bangkit itu tampak
dan berbicara pertama kali pada seorang wanita. Karena itu, sangatlah janggal
apabila wanita-wanita diperintahkan untuk berdiam diri pada saat ini, bahwa
mereka tak boleh berkhotbah atau memberitakan Injil. Yesus mengutus seorang wanita
untuk memberitakan berita pertama tentang kebangkitanNya.
Kematian-Nya dan
kebangkitan-Nya mengangkat wanita itu dari keberadaannya yang terjatuh dan
memulihkan dia pada tempat yang benar di dalam kerajaanNya. Dia sekarang bebas
untuk berdiri di samping suaminya-sama berharga dalam memberitakan berita
Perjanjian Baru dari Kristus pada seluruh isi dunia ini.
J.
Paulus dan Perempuan: Sikap
Yang Ambigu
Umumnya diyakini bahwa Paulus
merupakan tokoh Kristiani yang misoginis (membenci perempuan). Hal ini dibuktikan
dengan statemen-statemen Paulus yang sering kali mensubordinasi dan
memarjinalisasikan perempuan. Palulus mislnya, menyatakan bahwa “fungsi
mengajar di gereja ditugaskan khususnya kepada kaum lelaki” (1 Timotius 2:
11-15). Paulus juga menasihatkan agar perempuan beridam diri, dan menerima
pengajaran dengan patuh (1 Kor 14: 34). Ia juga secaara khusus mengajarkan
seorang istri harus tunduk dan patuh kepada suaminya dan lain-lain. Pandangan
misoginis Paulus berakibat pada penempatan perempuan menjadi warga kelas dua di
dalam gereja, sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.
Paulus juga mengakui ajaran
tentang tatanan penciptaan yang menganggap rendah kaum perempuan dan budak
sebagai hukum alam. Bahkan Paulus menyamakan posisi perempuan yang rendah dengan
posisi budak. Sebagaimana dituturkannya dalam Surat Paulus yang pertama kepada
Jemaat di Korintus (Kor 7:14-17).
Dari beragam penelitian terbaru
ditemukan bahwa Paulus ternyata mempraktikan Kristen yang inklusif. Dalam
surat-suratnya Paulus seringkali menyebutkan perempuan yang berperan sebagai
penginjil keliling dan pemimpim setempat. Paulus mencatatat Euodia dan
Sintikhe, sebagai dua perempuan yang telah berjuang bersamanya dalam penyebaran
Injil (Surat Pauluskepada Jamaat di Filifi 4: 2-3). Ia juga menyebut Yulia
sebagai Rasul perempuan serta berkali-kali menyatakan bahwa Priskan dan Akwil,
sepanjang suami istri yang menjadi pemimpin gereja dan hamba-hamba Kristus yang
setia dalm Kisah Rasul 18. Dalam teks tersebut, nama Priskila disebut lebih
dahulu, kemungkinan besar mengindikasikan bahwa dalam pelayanan dia lebih
“utama dan penting” dibanding dengan suaminya.
Dalam Kisah Rasul 18:26
disebutkan bahwa Priskila dan Akwila membawa Apolos ke rumah mereka dan mereka
berdua memuridkan dia dan menjelaskan Firman Tuhan kepada Apolos dengan lebih
akurat. Paulus juga menyebutkan Febe seorang perempuan sebagai pembantu gereja
(diaken) atau pemimpin bagi masyarakatnya. Paulus juga mencatat jumlah yang
hampir sama bagi perempuan (berjumlah 16 orang) dan laki-laki (berjumlah 18
orang) dalam salamnya kepada pemimpin-pemimpin gereja.
Pemaparan tersebut menegaskan
bahwa Paulus masih mendua dalam konsepsinya mengenai kesetaraan gender.
Sementara, ia mengakui adanya persamaan gender dalam kependetaan dan penebusan
dosa, tetapi pada saat yang sama ia masih mengakui tatanan hirarkis alam yang
menempatkan perempuan pada posisi rendah. Sebagaimana ditulisnya dalam surat
Paulus kepda Jemaat di Korintus.
Ambiguitas itu juga nampak pada
ketidakyakinannya pada hubungan antara teologi subordinasi yaitu ajaran tentang
penciptaan yang menekankan Adam dasn Hawa diciptakan secara berbeda, dan
teologi eskatologis yang mengakui Adam dan Hawa diciptakan sama. Pandangan
Paulus yang ambigu ini berimplikasi pada pandangan Kristiani pada era
berikutnya, sebagian besar teolog meyakini teologi subordinasi, sebagian kecil
lainnya menganut teologi eskatologis tentang kesetaraan. Jenis Kristen yang
pertama yaitu ajaran Paulus yang diteruskan oleh para pengikutnya yang disebut
Kristen Kharismatik yang bersifat kenabian. Mereka melanjutkan ajaran tentang
kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam Kristus, persamaan anugrah dan
persamaan panggilan untuk berdakwah dan membaptis. Belakangan, kelompok atau
aliran ini memfokuskan dirinya untuk bertapa. Sebagian dari mereka mengambil
garis kertas berupa memenuhi panggilan kesucian dan kesyahidan.
Perempuan-perempuan yang mengikuti aliran ini pada umumnya meninggalkan
perkawinan, mengabaikan kebutuhan kelurga, untuk tujuan berdakwah atau
membaptis. Bahkan mereka meninggalkan status perempuan mereka dengan memakai
pakaian laki-laki. Seperti yang digambarkan dalam Kisah Rasul Paulus tentang
Paulus dan Tikla.
Kelompok lainnya yaitu agama
Kristen Paulin yang termuat dalam Surat-surat Pastoral. Jenis Kristen ini
bergerak pada sistem kependetaan yang bersifat individual seperti Rasul, nabi
dan guru keoada sistem kependetaan yang terlembagakan yang terdiri dari para
uskup , pastor dan pembantu gereja. Dalam kobteks ini, mereka masih melibatkan
perempuan, namun pada posisi-posisi marginal, seperti membantu membaptis kaum
perempuan, membawa ekaristi pada perempuan, dan perintah kateketis tentang
perempuan.
Pandangan Paulus yang Ambigu
juga tercermin dalam teolog dan pemikir Kristen lainnya, seperti Thomas Aquinas
(1225-1274). Pandangannya semula sangat egaliter tentang laki-laki dan
perempuan, misalnya, Aquiwnas menyebut Tuhan dengan nama-nama abstrak dan
non-seksual, seperti Penggerak Pertama (First
Mover) dan Tindakan Murni (Pure Act).
Statemen tersebut tentu tidak bias laki-laki. Ia juga berpendapat bahwa
perempuan sama seperti laki-laki diciptakan langsung oleh Tuhan dan berada
dalam image Tuhan. Namun belakangan,
pertautannya dengan karya-karya Aristoteles yang patriakhal mendorongnya
cenderung menjadi bias gender. Berikut beberapa gagasan Aristoteles yang
patriakhal, diantaranya manusia yang sempurna adalah dalam bentuk laki-laki,
perempuan sebagai laki-laki yang diharamkan (misbegotten
male).
Pandangan Thomas Aquinas yang
dianggap bias gender yaitu laki-laki dan perempuan memang diberikan jiwa yang
rasional, tetapi rasionalitas perempuan diperlemah oleh tubuhnya yang lemah.
Jiwa di dalam tubuh perempuan tidak dapat dijaga dan dipegang secara kokoh
sehingga seringkali dipenuhi dosa. Hal ini dimungkinkan karena jiwa berkaitan
dengan keadaan fisik perempuan. Kerapuhan pemikiran dan kehendak perempuan
memiliki konsekuensi serius dalam sejarah manusia. Aquinas mengkaitkannya
dengan penciptaan Adam dan Hawa. Mengapa makhluk yang menyerupai ular lebih dahulu
menipu Hawa? Karena secara umum, perempuan memiliki kelemahan, sehingga menjadi
targat yang mudah untuk ditipu. Sementara, Adam memiliki kemampuan
intelektualitas, sehingga ia lebih waspada dan hanya memiliki sedikit godaan.
Meskipun laki-laki juga salah, tetapi perempuan memiliki kesalahan atau dosa
yang lebih besar. Kepasrahan perempuan kepada laki-laki terjadi karena
inferioritas perempuan. Pandangan tersebut makin menegaskan kuatnya pengaruh
Aristotelian ke dalam pemikiran Thomas Aquinas, sehingga gagasannya cenderung
mendeskreditkan perempuan.[17]
BAB III
KESIMPULAN
Perjanjian
Baru baik dalam penulisan maupun
pemberitaannya tidak lepas dari pengaruh budaya. Situasi sosial budaya yang
berubah-ubah menghasilkan gambaran tentang status dan peranan laki-laki dan
perempuan yang berubah-ubah. Pengaruh budaya patriarkhat terlihat melalui
status dan peran laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang atau tidak adil
gender. Status dan peran yang berubah-ubah ini bukanlah kodrat Tuhan, yang
tetap dan tak berubahubah adalah seks (biologis).
Ada
bagian Perjanjian Baru dalam gender yang lepas dari pengaruh budaya. Bagian ini
memperlihatkan status dan peran laki-laki serta perempuan yang ideal, yang
mengajarkan kesetaraan dan keadilan gender. Misalnya, ada
penekanan bahwa dalam perkawinan tubuh istri adalah milik suaminya dan tubuh
suami adalah milik istrinya (Corintus 7:4). Begitu juga, pada surat yang
dikirimkan kepada orang-orang Galasia, perempuan dan laki-laki adalah satu
dalam Yesus Kristus (Woman and Man are
one in Christ Jesus) (Corintus 3: 28). Bahkan, St. Paul membolehkan
perempuan untuk membantunya dalam urusan kependetaan dan menjanjikannya untuk
berkhutbah dan melakukan pengajaran agama (Acts 18:1-3, 24:26, Romans 16:1-2, 1
Corintians 11:5, Titus 2:3).
Adapun
bagian Perjanian Baru yang memperlihatkan ketidakadilan gender sebagai pengaruh
sosial budaya yang panjang, jangan ditolak, tetapi dipelajari latar belakangnya
dan tujuan penulisannya sehingga dapat ditemukan pengajarannya untuk masa dulu
dan kini.
[1] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm.
6-7.
[2] Mukti Ali (Ed). Agama –agama di Dunia. (Yogyakarta: IAIN
Sunan Kalijaga Press, 1988). Hlm. 343.
[3] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. (Jakarta: Al
husna Zikra, 1996). Hlm. 322.
[4] W.R.F. Browning. Kamus Alkitab. (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2010). Hlm. 349.
[5] Risnawaty Sinulingga. Gender Ditinjau Dari Sudut Pandang Agama
Kristen. Dalam Jurnal Wawasan (Juni 2006, Volume 12, Nomor 1). Hlm. 52.
[6] Ida Rosyidah dan Hermawati. Relasi Gender Dalam Agama-agama. (Ciputat:
UIN Jakarta Press, 2013). Hlm. 85—86.
[7] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 85—87.
[8] Idi Subandy Ibrahim (Ed). Wanita dan Media. (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1998). Hlm. 19.
[9] Fauzie Ridjal (Ed). Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia.
(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1993) Hlm. 8.
[10] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 76—79.
[11] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 83.
[12] Ida Rosyidah dan Hermawati. Op.Cit. Hlm. 91-97.
[13] Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga.
(Jakarta: Balai Pustaka, 2005). Hlm. 315.
[14] Aliyah. Dimensi Feminin dalam Paskah Agama Kristen. (Jakarta: Skripsi
Program Studi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sayrif
Hidayatullah Jakarta, 2007). Hlm. 34-36.
[15] Aliyah. Op.Cit. Hlm. 15-16.
[16] Aliyah. Op.Cit. Hlm. 43-54.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar