Nama : Dita Sopia Sari
Nim : 1112032100005
Kelas : PA (A)
Semester : 5
Tanggal : 9 Oktober 2014
Topik : Tokoh-Tokoh
Perempuan dalam Membangun Peradaban Islam
Kebangkitan islam seakan membuka kembali catatan
sejarah Islam. Sebagaimana yang telah diketahui sejak Rasulullah diutus untuk menyebarluaskan agama Islam.
Para muslimah generasi awal telah melibatkan dalam dakwah bersama kaum muslimin
yang lainnya untuk mengaktifkan transformasi sosial dan global menuju pribadi
yang lebih terarah. Telah tercatat nama-nama besar dari masa Nabi, Khulafaur
Rasyid dan sampai masa terjatuhnya masa Khilafah itu seperti Siti Aisyah, Siti
Khodijah, Siti Fatimah dan di masa modern yaitu Maryam Jamilah, Aminah Wadud
dan seterusnya. Mereka bisa dikatakan sebagai tokoh pergerakan wanita karena mereka
menjadi tauladan atau panutan bagi para wanita dari jaman ke jaman
Siti
Fatimah AZ-Zahra adalah salah
satu anak rasul yang lahir di Mekkah pada Jumat, 20 Jumadil Akhir tahun 613 M awal abad ke-7 dan meninggal 4 bulan
setelah Nabi Muhammad meninggal di Madinah 11 H.. Sebagian besar perjalanan
hidup Fatimah itu diabadikan untuk menopang perjuangan ayahnya. Beliau adalah
istri dari ali bin abi thalib yang menikah pada bulan syawal bada perang badar.
Dia menuruni sifat ibunya yaitu khodijah yang taat pada agama, peduli,
dernmawan dan lain sebagainya. Perjuangannya dapat dilihat dari kehidupannya,
ia hidup di lingkungan Rasul jadi seiring berjalannya waktu ia selalu diiringi
dengan perbuatan baik. Menurutnya kecantikan perempuan itu ada pada pakaiannya
yang islami yang tidak berlebihan, yang menutup auratnya dan berwajah seri
kepada siapapun. Ia juga dikatakan gadis yang pemberani, karena ia ikut serta
bersama saudara-saudara perempuannya dalam Perang Uhud (perang setelah Perang
Badar). Karena pada saat itu jumlah pasukan tidak seimbang, pasukan muslim
lebih sedikit dibanding dengan pasukan kafir.
Siti
Aisyah binti Abu Bakar adalah
istri Rasul yang dijuluki dengan nama “Ash-Shidiqoh” yang berarti perempuan
yang berhati lurus dan “Khumairoh” yaitu pipi yang kemerah-merahan. Lahir pada
tahun ke-9 bulan Dzulhijjah 614 M. tidak jauh beda dengan Fatimah, oa pun
menerima ajaran-ajaran yang baik dari Rasul.
Pengahafal hadits Rasul juga sangat berintelek dalam bidang Islam.
Tokoh-tokoh Perempuan Khalifah Bani Umayyah,
diantaranya Hindun Binti Utbah, Urainab Binti Ishak, Aminah Binti Asy-Syarid,
Arwa Binti al-harist, Az-Zarqaa binti Adiy al-Kufiyyah dan lain-lain. Adapun
dari bani Abbasiyah diantaranya, Ummi Salamah binti yakub almakhzumi ,
Al-Khaaizuran Binti al-mahdi, Zubaidah binti jafar, Aliyah Binti al-Mahdi,
Danamir dan lain-lain. Dan masih banyak lagi tokoh Islam perempuan pada masa
Rasul dan Khilafah.
Ibn Hajar
al-Atsqalani mengungkapkan 191 perempuan selama satu abad, dan 168-nya belajar
dan mendapatkan ijazah untuk menyampaikan ilmu mereka serta mengajar. Pada masa selanjutnya tidak banyak yang di sebutkan
dalam bidang biografi siapa sajakah tokoh perempuannya, paling hanya 1 atau 2
perempuan. Salah satunya adalah Maryam binti Muhammad al-‘Aqqad (1220
H/1805 M) yang mendapatkan ijazah untuk menyampaikan koleksi hadis dari ayahnya
dan ahli-ahli hadis termasyhur di zamannya.
Lalu pada masa modern juga terdapat tokoh Islam
perempuan, yaitu diantaranya Maryam Jameelah, yang merupakan orang
Yahudi Amerika , pada tanggal 23 mei 1934, di New Rochelle, New York . Maryam Jameelah merupakan seorang Yahudi
Reform yang bersifat liberal. Maryam Jameelah mengenal Islam melalui proses
yang panjang, pada tahun 1961 ia menjadi seorang mualaf. Pemikiran pembaharuan
Maryam Jameelah dapat di golongkan menjadi tiga tema yaitu: Islam dan
Modernisasi / Masyarakat Barat, Modernisasi dan Westernisasi dan Perempuan.
Amina Wadud lahir pada tanggal 25 September 1952
dengan nama Maria Teasley di kota Bethesda, Maryland. Ayahnya adalah seorang
Methodist menteri dan ibunya keturunan dari budak Muslim Arab, Berber dan
Afrika. Ia menerima gelar BS, dari The University of Pensylvania, antara tahun
1970 dan 1975. Pemikiran Amina Wadud mulai dari penciptaan manusia sampai
persaksian perempuan adalah untuk menentang sebagian sikap dan hasil penafsiran
tentang wanita dan Al-Qur’an. menganggap kesetaraan laki-laki dan wanita bukan
berarti sama bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang
sama pada tataran etika agama, dan mempunyai tanggung jawab yang sama-sama
signifikan pada tataran fungsi sosial. Dan selanjutnya masih banyak lagi
tokoh-tokoh Islam perempuan yang masih dan terus berjuang hingga saat ini.
Nama : ARIS DHIYA’UL FAUZAIN
Nim : 1112032100007
Kelas : PA (A)
Semester : 5
Tanggal : 9 Oktober 2014
Topik : Tokoh-Tokoh Perempuan dalam Membangun Peradaban Islam
a.
Masa Awal Peradaban Islam (Periode
Nabi dan Khulafaurrasyidin)
Fatimah Az-Zahra, adalah istri dari salah seorang khulafaurrasyiddin, Ali
bin Abi Thalib. Pernikahan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib berlangsung setelah
perang badar, antara bulan Syawal atau bulan Zulhijah tahun 2 H.
Fatimah memperoleh pengetahuan ilahiahnya dari benderang kenabian dan
menerima kecemerlangan kebenaran dari rumah wahyu. Karena kebenaran setiap
realitas hadir dalam wujud Fatimah az-Zahra. Dialah guru pertama perempuan yang
datang kepadanya untuk bertanya tentang Islam yang diajarkan oleh ayahnya.
Diantara ajaran-ajaran Islam yang mendapat perhatian khusus Fatimah adalah
melindungi kehormatan perempuan. Fatimah adalah gadis pemberani. Bersama
saudara-saudara perempuannya, beliau berada di garis pertempuran pasukan
ayahnya, merawat pasukan Islam yang terluka pada perang Uhud. Perjuangan Fatimah
dalam membela Islam antara lain menjadi motivator Rasulullah Saw., saat Nabi
mendapat tekanan dari kaum Quraisy Makkah. Membantu menyediakan makanan untuk
pasukan Islam yang sedang menggali parit dalam rangka mempersiapkan diri untuk
Perang Khandaq. Fatimah pun secara langsung aktif di balik front, satu jiwa dan
satu pemikiran dan membantu Amirul Mukmini as dalam hal-hal yang berhubungan
dengan jihad, mendirikan pertemuan pendidikan dan pengajaran.
Aisyah,
merupakan seorang anak yang dipinang oleh Rasulullah, tiga tahun setelah
Khadijah wafat. Hal ini tercatat ketika Aisyah berusia enam tahun. Intelektualitas Aisyah: Pengetahuan Aisyah yang
mendalam tentang Al-Qur’an, hadits Rasulullah, Fiqh dan Qiyas.
Ummu Salamah,
nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah. Ayahnya adalah Abu
Ummayyah ibn Mughirah, seorang tokoh Arab terkemuka. Adapun ibunya, Atukah
binti Amir ibn Abi Rabi’ah dari kabilah Kinanah. Suami pertamanya Abu Salamah
Abdullah ibn Abdul Asad al-Mughirah, seorang sahabat terkemuka. Pasangan ini
termasuk muslimin generasi awal dan muhajirin ke Habasyah dan Madinah. Kisah
mereka menggambarkan kekokohan iman, keikhlasan berkorban, dan kesabaran dalam
menghadapi penderitaan. Abu Salamah adalah pejuang Islam bersama Rasul dan selalu
mengikuti Rasul dalam peperangan. Pada perang Uhud dia menghadap Sang pencipta
akibat luka-luka yang dideritanya.
Tercatat dalam
sejarah Ummu Salamah beberapa saat mendampingi Rasul dalam peperangan seperti,
Fat-hu Mekkah (Penaklukan Mekkah, Pengepungan Thaif, Perang Lahwazan, Tsaqif,
dan lainnya). Dia dikenal sangat tajam analisanya sering dan memberikan
advokasi dalam berbagai strategi perjuangan Islam.
b.
Masa Kekhalifahan
Islam
Tokoh Perempuan Khalifah Bani
Umayyah:
1. Hindun
Binti Utbah
2. Urainab Binti
Ishak
3. Aminah
Binti Asy-Syarid
4. Arwa
Binti al-harist
5. Az-Zarqaa
binti Adiy al-Kufiyyah
|
6. Barakah
al-Hilaliyah
7. Ummi
Dardaa
8. Atikah
Binti Yazid Bin Muawiyyah
9. Rabiah
al-Adawiyyah
|
Tokoh
Perempuan Khalifah Bani Abbasiyah:
1. Ummi Salamah binti yakub almakhzumi
2. Al-Khaaizuran Binti al-mahdi
3. Zubaidah binti jafar
4. Aliyah Binti al-Mahdi
5. Danamir
|
6. Buran binti al-hasan bin shaleh
7. Uraib al-Mamuniyah
8. Qabihah
9. Sittu Mulk
10. Syajarutuddur
|
Tokoh
Perempuan di Andalusia:
1. Az-Zaharaa
2. Subaihah
|
3. I’timad ar-Rumaikiya
|
Rabiah
al-Adawiyah
Dilahirkan di
Bashrah, pada tahun 95/713-185H/800M.
Adalah seorang sufi wanita pertama. Beliau menciptakan karya berupa
syair-syair yang beraliran Muhabbah atau al-hubb
yang berhubungan tentang cinta.
Zubaidah Binti
Jafar
Ia adalah
seorang istri dari Khalifah Harun al-Rasyid. Ia dilahirkan di Musol tahun 149H
dan meninggal pada tahun 216H pada umur 71 tahun. Diantara jasa-jasanya yaitu:
· Memiliki 100 pembantu hafidzah
· mengalirkan air sejauh ratusan batu yang membelah bukit sehingga air itu
dapat mengalir dari sumber air mata ke tanah haram yang memakan biaya sebesar 1,700,000 dinar
· memperbaiki jalan di antara Baghdad ke Makkah dan membuat rumah-rumah
singgah untuk orang yang berhaji
· Membuat Masjid Siti Zubaidah
c.
Masa Kejatuhan
kekhalifahan
Ibn Hajar
al-Atsqalani mengungkapkan bahwa sebanyak 191 perempuan selama satu abad, dan
168-nya belajar dan mendapatkan ijazah untuk menyampaikan ilmu mereka serta
mengajar. Sebagian besar dari mereka mempelajari Bukhari-Muslim, 12 diantaranya
bergelar musnidah. Sementara al-Ghazzi menyebutkan 12 perempuan, 9 diantaranya
adalah terpelajar. Salah satunya adalah Amah al-Khalik (902 H /1496 M) yang
meriwayatkan “Bukhari” dari penduduk Hijaz yang dapat dipercaya.
Pada masa
selanjutnya tidak banyak yang di sebutkan dalam bidang biografi siapa sajakah
tokoh perempuannya, paling hanya 1 atau 2 perempuan. Salah satunya adalah
Maryam binti Muhammad al-‘Aqqad (1220 H/1805 M) yang mendapatkan ijazah untuk
menyampaikan koleksi hadis dari ayahnya dan ahli-ahli hadis termasyhur di
zamannya.demikian juga dalam bidang tasawuf, setelah abad ke 10 H/16 M
wanita-wanita sufi sudah mulai lenyap dari koleksi biografi, kecuali Ruqayyah
(1317 H/1899 M) ia adalah putri dari seorang syaikh tharekat sya’diyah di
Damaskus. Di samping itu, tercatat satu tokoh perempuan dari wilayah Afrika,
Sokoto—sekarang masuk dalam wilayah republic Nigeria –bernama Nana Asma’u (1793
H/1865 M). dia adalah seorang guru, penyair, dan seorang pemimpin perempuan.
Sukainah bint
al-Husain (w. 735 M), cicit Nabi adalah tokoh perempuan ulama terkemuka pada
zamannya. Pemikirannya cemerlang, budi pekertinya indah, penyair besar, guru
penyair Arab tekemuka : Jarir al-Tamimy dan Farazdaq. Ayahnya ; Imam Husain bin
Ali, menyebut putri tercintanya ini : “Amma Sukainah fa Ghalibun ‘alaiha
al-Istighraq ma’a Allah” (hari-harinya sering berkontempelasi). Ia sering
memberikan kuliah umum di hadapan public laki-laki dan perempuan, termasuk para
ulama, di masjid Umawi. Ia dikenal juga sebagai tokoh kebudayaan. Rumahnya
dijadikan sebagai pusat aktifitas para budayawan dan para penyair.
d.
Masa Modern
Maryam
Jameelah, merupakan orang Yahudi Amerika , pada tanggal 23 mei 1934, di New
Rochelle, New York . Maryam Jameelah
merupakan seorang Yahudi Reform yang bersifat liberal. Maryam Jameelah mengenal
Islam melalui proses yang panjang, pada tahun 1961 ia menjadi seorang mualaf.
Tulisan-tulisan
Maryam Jamileeh:
1. Islam and Western Society
2. Islam and Orientalis
|
3. Islam in the Theory and
Practice
4. Islam in the Muslim Woman
Today
|
Pemikiran-pemikirannya:
Pemikiran
pembaharuan Maryam Jameelah dapat di golongkan menjadi tiga tema yaitu: Islam
dan modernisasi / masyarakat Barat, modernisasi dan westernisasi, dan perempuan
Amina Wadud,
lahir pada tanggal 25 September 1952 dengan nama Maria Teasley di kota
Bethesda, Maryland. Ayahnya adalah seorang Methodist menteri dan ibunya
keturunan dari budak Muslim Arab, Berber dan Afrika.
Ia menerima
gelar BS, dari The University of Pensylvania, antara tahun 1970 dan 1975. Dia
menerima MA di Studi Timur Dekat dan gelar Ph.D dalam bahasa Arab dan Studi
Islam dari University of Michigan pada tahun 1988. Selama kuliah, ia belajar
Arab di Mesir di Universitas Amerika di Kairo, dilanjutkan dengan studi Al-Quran
dan tafsir di Universitas Kairo, Mesir dan mengambil kursus di Filsafat di
Universitas Al-Azhar.
Pemikiran
Amina Wadud mulai dari penciptaan manusia sampai persaksian perempuan adalah
untuk menentang sebagian sikap dan hasil penafsiran tentang wanita dan
Al-Qur’an. Penafsiran yang mengabaikan prinsip keadilan, persamaan dan
kemanusiaan yang lazim. Amina Wadud menganggap kesetaraan laki-laki dan wanita
bukan berarti sama. Ia mengakui adanya perbedaan penting antara laki-laki dan
wanita. Maksud kesetaraan menurutnya adalah bahwa laki-laki dan perempuan
mempunyai hak dan kewajiban yang sama pada tataran etika agama, dan mempunyai
tanggung jawab yang sama-sama signifikan pada tataran fungsi sosial.
Fatima
Mernissi, lahir di Fez Maroko pada tahun 1940. “salah seorang feminis
Arab-Muslim terkenal,” merupakan generasi pertama perempuan Maroko yang
mendapat kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Dia kuliah di Universitas
Muhammad V di Rabat, kemudian melanjutkan pendidikannya untuk menerima gelar
doktornya dalam bidang sosiologi di Amerika Serikat pada tahun 1997.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar